Alamat E-mail baru saya = pak.faizal@gmail.com



karena berkali-kali pernah merasakan sebel ama milis Apresiasi-Sastra di yahoogroups akhirnya dengan terpaksa aku ganti E-mail baru yaitu pak.faizal@gmail.com. lha gimana ga sebel pengen unsubcribe gagal terus. jadinya tiap hari dapat kiriman paling tidak 10 e-mail yang aku ngga minat. sampai sekarang inbox saya sudah 5.500-an yang mayoritasnya dari maling list bernama Apresiasi-Sastra

VIDEO YAHUDI DITELAN BUMI KETIKA DISKO


MAU DONLOT?
KLIK SINI YA :)

Sudah kholilullah tetapi masih ingin bertambah keyakinan kepada Allah

ASSALAMUALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِـي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن قَالَ بَلَى وَلَـكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءاً ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْياً وَاعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
260. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati, Allah berfirman: Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman)Lalu letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260)

copi paste from : http://quran.kawanda.net/
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dariapa orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama nabi Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Q.S. An-Nisa : 125)Nabi Ibrahim mendapat gelar khalilullah yang artinya kekasih Allah. Predikat ini bukan bikinan atau keinginan manusia apalagi permintaan Nabi Ibrahim sendiri. Tetapi langsung Allahlah yang menganugrahkanya seperti yang tercantum dalam ayat Al-Quran di atas.Sebagai kekasih Allah tentu saja Ia (Allah) sangat sayang kepadanya; Sangat dekat dan do’anya selalu dikabulkan. Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 124 s.d.129 menggambarkan betapa Allah memenuhi segala do’a yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim a.s. antara lain: Keturunannya banyak yang menjadi nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad saw. ; Tanah Mekah menjadi negeri yang aman, tentram dan sejahtera dikunjungi oleh jutaan manusia setiap tahun ; Perjalanan hidupnya dijadikan sebagai manasik haji, dan hingga kini seluruh umat Islam senantiasa membacakan shalawat setiap hari kepadanya di dalam setiap shalatnya bersamaan dengan shalawat kepada nabi Muhammad saw.Nabi Ibrahim mendapat gelar khalilullah tentunya berkat usaha dan kesungguhannya dalam menegakkan syaria’at Allah dan pengabdiannya yang tak terhingga sebagai seorang rasul meskipun banyak tantangan dan rintangan yang ia alami dan diantaranya juga ialah meskipun beliau sudah beriman tapi masih ingin terus belajar untuk meningkatkan iman yakin kepada Allah SWT sebagaimana diceritakan di QS.2 ayat 260:
260. Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang mati, Allah berfirman: Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman)Lalu letakkanlah tiap-tiap seekor daripadanya atas tiap-tiap bukit. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang kepada kamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 2:260)
Bagaimana dengan kita yang imannya kadang naik kadang turun ini? kenapa kadang-kadang malas mengusahakan keimanan kita agar meningkat?
semoga Allah SWT selalu merahmati kita dan bisa ambil pelajaran dari kisah perjuangan Nabi ibrahim dalam mengusahakan iman kepada Allah SWT.

THE ROLLING WILD BALL OF “PEMAKZULAN” DISCOURSE

The discourse about the pros and cons of Vice President Budiono’s impeachment was widely discussed in the mids of the busy work of special committee for investigating the scandal of Century Bank (Pansus Bank Century). Many people judge that such discourse is a manifestation of excessive worry and paranoid attitude of the status quo that fear his power dropped or fallen. If the committee members really find abuse and irregularities behind Century Bank bailout policy, it can be said that "Impeachment” or some people traslate this into “Pemakzulan" is no longer a discourse or a term, but became a political reality which can be denied of its truth. Therefore, before the Special Committee act "dangerously", the authorities need to provide "early warning" to come up stating that "Impeachment" is absolutely not recognized in our constitution. That kind of message had been understood by the public.
Apart from the controversy of the problem of "Impeachment", which clearly a sort of heated political situation and decorated all the media headlines. Special Committee on the Senayan seemed has been rolling a "wild ball" that has been responded by the various elements of society. Demonstrations in various places including the demo dated January 28 is an important note to President Susilo Bambang Yudhoyono after a 100-day of his leadership. Not only the case of Century Bank has been targeted the protesters, the criminalization of the Commission of corruption eradication (KPK), law discrimination , and the rise of legal and judicial mafia, also became a critical issue in addressing the political behavior of government and power addressed towards SBY as "failed" to conduct and govern the people's mandate. "The wild ball” seems will be continued rolling in all directions. Political rivals SBY certainly take advantage of such a political atmosphere to continue to shake up the status quo position of President SBY and his coalition.
Etymologically and morphologically, In Indonesian the term of "Pemakzulan" derives from the word "Makzul" which in KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) means “berhenti memegang jabatan; turun tahta”. After putting the particle of “Pe” and “an” it becomes the term "Pemakzulan". It has the meaning of the process and the acts of abdicating public official. So what is meant by "Impeachment" by members of the House of Special Committee (Pansus Century Bank) is “to abdicate or remove SBY from his office”.
In essence, the word "pemakzulan" is actually a different meaning to the English word of "Impeachment". This word comes from the word "to impeach", which means “the prosecution against the law towards a public official. Charles L. Black adds, "Strictly speaking, 'Impeachment' means 'accusating' or 'charge'." In the case of Century Bank if the claim succesfully proved then the punishment is "removal from office" or dismissal from office. By above explanation, it is clear that “Impeachment” can be defined as the the prosecution process for the public official deviant conduct. Such understanding is often poorly understood, as if the term "Impeachment" is synonymous compared to “an act of abdication”', whereas the demand of public official’s accountability called as “Impeachment” does not always end with the dismissal action against the public official. The cases as an instance is the events experienced by the former President of the United States, Bill Clinton, who had been impeached by the House of Representatives, but in a Senate trial, it had not been achieved the required number of votes that Bill Clinton did not experienced with dismissal of his position.
Many netters in social networking like Twitter said or commented that term "Memakzulkan" is a new word. Actually it is not. It is quite different to the various terms created for the language use of new technologies and should be created for the language equivalents in Indonesian, the concept of “Pemakzulan” has been known since the people had known the system of government. Indonesian people had built large countries since many centuries ago. So one might expect these words have a very long history in the Indonesian language, or perhaps more accurately Melayu language, because the term itself a new Indonesian popularized at early 20th century.
Tracking back the use of the term "pemakzulan" in Melayu language writing, there is a good tool of a searching at the website of Malay Concordance Project (MCP). On this site it can be traced to the emergence of a word in Malay language manuscripts, ranging from Stone inscribed Terengganu (ca. 14th century) until the Tale of the Kingdom of Sikka (1925-1953). The emergence of these words can be sorted by chronology. With these sites it can be found that the term “makzul” (in the form of “ma'zul”) appears first in the Hikayat Muhammad Hanafi. The Saga adapted from the story of this Persian story written estimated at least 1450 years ago, even it maybe had been there since 1380. So at least in Malayan this term has been known since more than 450 years ago.
Although it had been introduced for a long time, many linguists are wondering why Indonesian people should borrow this Arabic term. Is there no word that fits Indonesian language? There is someone who suggested using "pemberhentian", and there are also other people who suggested “pemecatan ".
This idea is certainly difficult to accept since our common character is somehow very difficult to accept transparancies and speaking frankly and very clever in covering the bitter reality by the use of sweet words. The instances is the use of the phrase "penyesuaian harga" as the sweet word for the phrase "menaikkan harga" or the use of the phrase "masyarakat pra sejahtera" in turn of the phrase "masyarakat miskin".
On the other hand Sawali Tuhusetya, a poet, teacher and well-known Bloggers, from the linguistic side, the real meaning of "pemakzulan" does not always mean a person or group attempts to dismiss or remove some people or other groups from their position, but it can also happen for a particular reason, a person or of the group resigned on his own initiative. In the developed countries which have an established tradition of democracy, such ethical and moral values had been practiced; one of them is, in the form of abdication. This term absorbed from the English language "abdication" which is rooted from the word "dico"; means giving announcement about one’s retirement from his throne.
We all know that ruling the authority is not a goal, but just a tool.a tool for achieving people’s common goals. Therefore, if someone fails to use these tools to achieve people ’s goals, it is better that he leave his office temporarily in order to give opportunity to others who have the commitment and ability to use it as a tool to achieve power goals, namely to create a common good (common goods).
Getting involved in a case or scandal is one of the reflections of public official’s failure in undertaking the trusted power given by people. Therefore, if an official had been involved in a scandal, he should be non-active in order that the investigation and review process can be proceeding smoothly and transparently. Only after he had set free from all charges, he can go back again to his position since the public trust can be restored as soon as possible.
Resigning from one’s position or abdication is one of the forms of self responsibility and accountability for one’s failures and mistakes. Officials who felt like a failure in carrying out the public trust or there is an indication of power abuse involved in the fraud or scandal is suggested to resign his authority as a noble manifestation of his shame before the public. They feel that they no longer have a dignity and self-esteem as the clear reason in not extending the period of his mastery of authority and power since the public distrusted him.
The tradition of abdication gracefully had been such kind of political culture in some advanced countries. Yasuo Fukuda, one of the former prime Ministers of Japan, had ever announced for his sudden resignation on 1st September 2008 breaking the Japanese political deadlock. The same reason was also conducted by PM Shinzo Abe resigned at September 12, 2007. The public trust had lost for Abe since there was an indication of commited to corruption scandals. Fukuda said he was no longer worthy to lead Japan.
In the United States, abdication also becomes an ethical and moral tradition. On July 31, 2009 Mayor of Hoboken, New Jersey, United States, resigned from his position, although he did not plead guilty. The resignation has also been done by President Nixon in 1974 since there was an investigation into the Watergate scandal which discrediting him. Although they are generally forced to resign, but the process is done by an elegant abdication and provides an elegant statement as well. However, in Indonesia, said Manalu Bobby Rahman, a legal practitioner, the culture of shame and abdication seemed has not been cultured and grown up. If there is an official who was forced to resign, it was because of the pressure that was unstoppable again. And more than that sometimes they said notorious statement which should not be spoken by a statesman.
Such statements that can be found for instance at the time President Suharto resigned in May 1998 in saying "I resign by a feeling of Lila Legawa (sincerity). And it will soon abdicate, retreat as a priest. Ora dadi presiden yo ora patheken! (There will be no skin desease (calamity/curse) if I am no longer working as a president!)". In such statement Suharto saying his feeling of the grace and willingness, but the last sentence clearly indicates a very deep compulsion. It seems that the culture of our public official do not seem possible gives easy way for for "Impeachment" because of his own initiative. Instead abdicating themselves, if necessary, they justify any means to keep or retain their authority, although there are strong indications have shown anomalous abusive deviant behavior of our public official in governing this country.
In such a situation, we immediately remembered of the expression of the poet Friedrich von Schiller who has ever quoted by Bung Hatta as saying "great era had been born a century, but the great time only bear a darf human being". We have been passing much times that we called “Orde”. But, of many orde or era has born only a few high-spirited statesmen like Bung Hatta, who resigned elegantly when he felt there was corruption and political abuse in the era of President Sukarno’s leadership.
Bung Hatta did not do anything wrong, but he felt he was in the wrong place. He was ashamed of the people who believe in the integrity of himself if he still insisted on keeping his position (as Vice President accompanying President Sukarno). For Bung Hatta, it was better to be a former officer but respectable rather than an official but not respectable. An attitude that is now is missing from most of our political elite mental characters.
These days, the work result of the Special Committee of Bank Century awaited attentively by the public. It is greatly feared that months of work funded by public money will be gone or misleaded into the wrong way or stopped middle of the road. Their credibility is at stake. Do not let the people who had elected them through the election fooled and betrayed. There is an indication that the Special Committee had become more uncertain due to the intervention of certain groups who feel disturbed because of the impact of the rolling of "the wild ball". If the people in charge can not perform their duties honestly and professionally it can be sured that the public sympathy would turn into hostile attitude.

ISLAMIC HOME-SCHOOLING

Islamic Home-Schooling (Selanjutnya akan disingkat IHS) adalah Home-Schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syar’i, yakni kewajiban orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak, serta dijalankan dengan mengikuti tuntunan AlQuran dan AsSunnah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahulu ummat ini yang shalih (AsSalafush Sholih).

Tujuannya adalah :

1. Terciptanya keluarga sakinah; yang di dalamnya semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan sebaik-baiknya

2. Terbentuknya generasi penerus yang bertauhid, berpegang kepada sunnah, berakhlaq mulia, berbadan sehat, multi-cerdas, kreatif dan mandiri serta memiliki semangat untuk membela Islam dan kaum muslimin

SUBYEK IHS

IHS PERMATA HATI dimaksudkan bagi anak usia 0 - 13 tahun secara umum. Atau sampai anak berusia 16 tahun bagi orangtua yang memiliki kemampuan mengajarkan gramatika Bahasa Arab (kitab gundul) dan ilmu-ilmu syar’i tingkat menengah. Adapun setelah anak memasuki usia baligh maka anak harus diarahkan untuk melakukan rihlah ilmiyyah guna menimba ilmu dari para ulama, jika hal itu memungkinkan (dan memang harus diupayakan).

MENGAPA “ISLAMIC HOME-SCHOOLING” ?

Menyelenggarakan IHS membutuhkan motivasi yang luar biasa besar dari pihak orangtua. Motivasi akan muncul ketika seseorang dengan sadar dan yakin memahami alasan mengapa dia melakukan sesuatu. Maka kita dituntut untuk memiliki prinsip.

Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan prinsip dalam menyelenggarakan IHS :

1. Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.” (HSR. Malik, Ahmad, AlBukhori, Muslim, Abu Daud, AtTirmidzi)

2. Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (Baca : Qs. Maryam 54-55, QS. Luqman : 13) Interaksi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cucu beliau, Hasan dan Husain, atau dengan sepupu beliau, Ibnu Abbas, atau dengan putera asuhnya yang berkhidmat kepada beliau, Anas bin Malik juga dapat kita jadikan referensi. Dari kalangan ulama Islam, tercatat misalnya Ibnul jauzi yang menulis kitab khusus untuk puteranya yang berisi petunjuk menuntut ilmu secara lengkap, Laftatul kabid fi nashihatil walad (Kitab ini patut menjadi rujukan dalam IHS).

3. Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya !

4. Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak. Orisinalitas (keaslian) seorang anak adalah : fithroh, keingintahuan dan kreatifitasnya. Sedangkan individualitas (ke-diri-an), meliputi qolb dan jasad (contoh yang jelas : sidik jari, suara dan DNA). Orisinalitas dan individualitas menyebabkan tiap anak unik dalam segala hal, termasuk cara belajar mereka. Agar mereka dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, anak wajib mendapatkan kebebasan. [4]

DARI MANA KITA MEMULAI ?
Klik yang ini ya: Islamic homeschooling ,how to begin

template baru nih:)

Fun with Fish Widget

Here’s how you can add the Fish Widget (and others)

This page lists the gadgets by abowman:
http://abowman.com/google-modules/
or
Clicking here!

To add it onto your blog, find the web address of the gadget you want (Fish is: http://fishgadget.googlecode.com/svn/trunk/fish.swf)

Then go into your blog and Write a Post or Page. Use the “f” button in the WYSIWYG menu and paste the address (the file should end in .swf).

About 500 height by 500 width should be pretty good, but you can always change this afterward.

Cheers,

KRITIK SOSIAL POLITIK DALAM BAHASA PLESETAN

SBY-JK: Susah Bensin Ya Jalan Kaki
BBM : Baru Bisa Mimpi
KUHP: Kasih Uang Habis Perkara


Ungkapan bahasa yang “Deviant” atau “Nyeleneh” di atas mudah kita jumpai dalam acara-acara komedi di televisi dan radio dan juga dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa yang mengandung unsur humor yang menggelitik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh pelawak Marwoto di TVRI Yogyakarta yang kemudian lebih populer dikembangkan oleh Kelik Pelipur Lara dari grup LBH (Lembaga Bantuan Humor). Kelik si raja plesetan ini mulai terkenal ketika dia pernah menjabat sebagai “Wakil Presiden” di acara Republik BBM (“Baru Bisa Mimpi”) dan sekarang tampil di acara “DemoCrazy” di MetroTV. Menurut Kelik bahasa plesetan bukan sekedar guyonan biasa tetapi merupakan humor cerdas yang bertujuan membuat orang mau berpikir atas persoalan sosial politik bangsa ini. Plesetan bukanlah sekedar lelucon. Ia adalah “perlawanan” terhadap hegemoni politik negara dengan bahasa nasionalnya yang dianggap telah begitu lama menguasai kehidupan sehari-hari warga biasa. Dalam bahasa plesetan dapat ditemukan persepsi yang unik dari rakyat biasa terhadap persoalan sosial politik yang diungkapkan dalam bentuk permainan bahasa.
Bahasa plesetan mulai populer pada tahun 1990-an. Tahun-tahun ketika isu sosial politik mulai menjadi pembicaraan yang hangat. Beberapa tayangan lawak yang disiarkan di televisi tidak lagi mengandalkan “guyonan garing” yang menampilkan kebodohan pelawak, melainkan mulai menggunakan gaya plesetan. Pada saat itu yang menjadi sasaran utama plesetan adalah isu-isu sosial politik, meskipun hal ini dilakukan dengan tidak terang-terangan. Bahasa plesetan pada masa itu merupakan refleksi ketidakpuasan masyarakat terhadap kekuasaan yang sifatnya sangat dominan.
Darimana kah asal-muasal bahasa plesetan ini? Yogyakarta adalah kota yang diyakini sebagai tempat kelahirannya. Di kota ini bahasa plesetan bukanlah sesuatu yang baru. Permainan bahasa ini diakrabi masyarakat sejak mereka masih kecil. Plesetan telah menjadi cara yang unik dan kreatif bagi masyarakat umum untuk menciptakan suasana yang penuh canda dan sejenak melepaskan diri dari himpitan persoalan kehidupan sehari-hari. Kemahiran dalam permainan bunyi kemudian menjadi salah satu modal yang penting bagi mereka untuk menjaga kedekatan dan keakraban satu sama lain.
Pengamat seni dan budaya seperti Alia Swastika meyakini bahwa kemahiran orang Yogya bermain plesetan ini disebabkan karena budaya mereka yang senang tampil beda dan juga kesenangan mengobrol dan melepas humor. Kebiasaan bersantai dengan lingkungan sepergaulan diwujudkan dengan kegiatan kumpul-kumpul sambil mengobrol tentang banyak hal .Dari sinilah kemudian muncul dialog dan cara menyampaikan ujaran-ujaran yang beragam, sampai lahir plesetan. Disamping itu, ada karakter khas orang Jawa yang sepertinya mempengaruhi kebiasaan plesetan mereka. Orang Jawa dianggap anti konflik dan tidak suka berterus terang. Jika tidak setuju akan sesuatu, orang Jawa cenderung menyampaikannya dengan bahasa yang halus untuk menghindari pertikaian. Karenanya, kritik-kritik kemudian disampaikan dengan “kemasan lain”, yang diharapkan tidak membuat pihak yang dikritik tersinggung. Humor adalah satu bentuk yang dianggap paling efektif.
Di tahun 1994, di Yogyakarta muncul fenomena baru dalam hal plesetan. Ada sekelompok mahasiswa UGM yang mendirikan perusahaan kaus oblong “Dagadu” menawarkan cinderamata alternatif khas Yogyakarta. Jika dilihat dari asal kata “Dagadu” adalah makian khas masyarakat Yogya yang berarti “Ma-ta-mu”. Rumus mengganti kata “matamu” dengan “dagadu” adalah rumus “Basa Walikan” yang merupakan salah satu variasi plesetan khas Yogyakarta. Bagi orang luar Yogya, untuk dapat mengerti basa walikan ini tidak cukup dengan mengerti bahasa Jawa saja, melainkan ia harus menguasai dua puluh karakter dasar huruf Jawa. Seperti halnya permainan bahasa yang lain, “Basa Walikan” ini adalah cara khas masyarakat kelas bawah untuk menampilkan identitas mereka. Lewat bahasa mereka mengukuhkan eksistensi—karena di luar wilayah itu, mereka tidak pernah diakui keberadaannya.
Hampir mirip dengan bahasa prokem di Jakarta “Basa Walikan” menjadi bahasa yang awalnya digunakan oleh preman-preman untuk melakukan komunikasi antar mereka dan menyampaikan informasi penting dan rahasia, demi melindungi mereka dari para penegak hukum. Masyarakat awam mulai mengambil bahasa ini untuk mencari nuansa yang berbeda, untuk menemukan cara yang lain dalam menyampaikan kritik dan ekspresi perasaan mereka. Basa Walikan tiba-tiba menjadi bahasa yang enak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Satu contohnya ialah plesetan Kata “Malio-Boro” menjadi “Malio-Boros’’. Dalam contoh ini terlihat jelas upaya bermain-main dengan keisengan kreatif dengan memberikan aksentuasi dan penambahan huruf ‘’s’’ pada kata ‘’Malioboro’’ yang bermuara perbedaan makna sangat signifikan. Konotasi kata ‘’Malioboro’’ plus huruf ‘’s’’ menjadi bermakna negatif dan kenegatifan ‘’Malio-boros’’ ini sengaja dieksploitasi dan dijual Dalam pandangan ide pihak Dagadu Djokdja, tema ‘’Malio-Boro menjadi Malio-Boros’’ dimaksudkan bahwa belanja di kawasan Malioboro itu “Marai” (“menyebabkan”) boros. Lewat pendekatan poster, para desainer Dagadu mencoba menyampaikan uneg-uneg kolektifnya untuk menyampaikan suatu keinginan sekaligus mengingatkan kepada kita betapa borosnya belanja di kaki lima sepanjang kawasan Malioboro. Pedagang lesehan yang menjual dagangannya tanpa memasang harga tarif secara wajar, ditambah pula dengan perilaku penjaja cinderamata yang menawarkan harga sangat tinggi. Selain itu , muncul pula fenomena warung-warung makan di pinggir jalan yang menggunakan formula plesetan yang terasa ‘mengejek’ hal-hal yang lebih mapan misalnya warung makan yang dinamai “Ken (”Disuruh”)-Tuku (”Membeli”) Fried Chicken”, atau “Ken-Chick” sebagai kebalikan dari kata ”Chicken”.

Abudira's Blog

Here's my most favourite blog

http://abudira.wordpress.com

Buat anda yang ingin berkonsultasi tentang grammar,vocab, translation pokoknya apa aja yang anda bingungkan InsyaAllah saya akan coba membantu sebisanya. For more info klik yang ini : Konsultasi Gratis Pelajaran Bahasa Inggris...

Search This Blog

Memuat...

About Me

Foto Saya
I'm just a simple lecturer who has a great enthusiasm in blogging activities

INFO SUPER PENTING

Click this cool links..
Jasa bikin blog

BlogFactory.Web.id
CONTACT PERSON
Pak Faizal
faizrisd@gmail.com


My luFa cEBooK account
Facebook/ZatoichiFay
Twitter/pakfaizal