Kamis, 30 April 2009

buat yang merasa dirinya konsumen

k
Yang berbahaya dilingkungan kita;

1. BEKAS BOTOL AQUA

Mungkin sebagian dari kita mempunyai kebiasaan memakai dan memakai ulang botol plastik (Aqua, VIT , etc) dan menaruhnya di mobil atau di kantor. Kebiasaan ini tidak baik, karena bahan plastic botol (disebut juga sebagai polyethylene terephthalate or PET) yang dipakai di botol2 ini mengandung zat2 karsinogen (atau DEHA). Botol ini aman untuk dipakai 1-2 kali saja, jika anda ingin memakainya lebih lama, tidak boleh lebih dari seminggu, dan harus ditaruh ditempat yang jauh dari matahari. Kebiasaan mencuci ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat karsinogen itu bisa masuk ke air yang kita minum. Lebih
baik membeli botol air yang memang untuk dipakai ber-ulang2, jangan memakai botol plastik.

2 . PENGGEMAR SATE
Kalau Anda makan sate, jangan lupa makan timun setelahnya. Karena ketika kita makan sate sebetulnya ikut juga karbon dari hasil pembakaran arang yang dapat menyebabkan kanker. Untuk itu kita punya obatnya yaitu timun yang disarankan untuk dimakan setelah makan sate. Karena sate mempunyai zat Karsinogen (penyebab kanker) tetapi timun ternyata punya anti Karsinogen. Jadi jangan lupa makan timun setelah makan sate.

3. UDANG DAN VITAMIN C
Jangan makan udang setelah Anda makan Vitamin C. Karena ini akan menyebabkan keracunan dari racun Arsenik (As) yang merupakan proses reaksi dari Udang dan Vitamin C di dalam tubuh dan berakibat keracunan yang fatal dalam hitungan jam.

4. MI INSTAN

Untuk para penggemar mi instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3 (tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi mi instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi, dari informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mi instan. Itu sebabnya mengapa mi instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi mie instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker. Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir tidak punya
waktu lagi untuk memasak, sehingga diputuskannya untuk mengkonsumsi mi instan setiap hari . Akhirnya dia menderita kanker.
Dokternya mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam mi instan tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.






5. BAHAYA DIBALIK KEMASAN MAKANAN

Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai "pelindung " makanan.
Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilik kemasan makanan. Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan, pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi, dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada makanan, yaitu kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya.
Inilah ranking teratas bahan kemasan makanan yang perlu Anda waspadai.

A. Kertas .
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas koran dan majalah) yang sering digunakan untuk membungkus makanan, terdeteksi mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang ditentukan. Di dalam tubuh manusia , timbal masuk melalui saluran pernapasan atau ngan kita. pencernaan menuju sistem peredaran darah dan kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti: ginjal , hati, otak, saraf dan tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu
pallor (pucat), pain (sakit) & paralysis (kelumpuhan) . Keracunan yang terjadipun bisa bersifat kronis dan akut. Untuk terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam berat timbal, memang susah-susah gampang.
Banyak makanan jajanan seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus dengan Koran karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal bahan yang panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbale makanan tsb.
Sebagai usaha pencegahan , taruhlah makanan jajanan tersebut di atas piring.

B . Styrofoam
Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan. Tetapi, riset terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan keamanannya. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya murah, lebih aman, serta ringan. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam makanan sangat berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine disrupter (EDC), yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya gangguan pada system endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan kimia karsinogen dalam makanan.

JADILAH SAHABAT BAGI KELUARGA serta ORANG LAIN DAN KIRIMKAN TULISAN INI SEBANYAK
MUNGKIN KEPADA FAMILY serta SAHABAT ANDA.

.
sumberipun: Ajangkita.com

Rabu, 29 April 2009

WHO IS ZATOICHI?

Zatoichi is the famous, fictional, blind masseur and roving gambler who, when innocent lives are threatened, becomes the ruthless swordsman who can cut down a dozen men -- yakuza and samurai alike -- before they know what hit them.


Zatoichi, The Blind Swordsman
He's as famous a film character in Japan as the Indiana Jones character is in the States. He wandered the Japanese countryside in the early 1800s during the waning years of the Tokugawa Shogunate, barely scraping a living by giving massages and gambling. Although saddled with the physical handicap of blindness and the social handicap of living at the bottom of a rigid feudal class structure, Zatoichi manages to gain the upper hand with nearly everyone he meets, including the samurai or warrior class. He achieves this by using his good-natured wit, perceptive understanding of human nature, keen sense of hearing, and the lightning fast draw of his cane sword.

Often humorous and always filled with sword-fighting action, the Zatoichi series of films has succeeded in attracting a worldwide following.

"Any fan of Kurosawa's 'Yojimbo' should snatch these up." --The New York Post.
sumberipun: http://www.momii.com/zatoichi/whois.html#bio

The Faizal Google search

proudly Abudira presents the new arrival of the latest invention:

or it can be found int the URL address of: Faizal Search or also: Faizal Google Search. It is all done by the help of Allah SWT the most merciful via His makhluq called : http://www.pimpmysearch.com/. U wanna try?

Senin, 27 April 2009

Zatoichi'sBlog di Blog-Indonesia.com

aku berkunjung ke:


rencananya mau mendaftarkan blog saya biar bisa dibaca lebih banyak kalangan..biar lebih manpangati..
dan walhasil menemukan link ini:
http://blog-indonesia.com/blog.php?blogger=11120 di klik aja yah..buat bacaan ringan..

Minggu, 26 April 2009

Apa itu joomla?

Joomla adalah content management system (CMS) yang Open Source.Seperti kita ketahui banyak sekali terdapat jenis-jenis CMS, diantaranya adalah Mambo, Drupal, Geeklog, Post-Nuke, dan bla… bla… bla…

Apabila anda mencari definisi Joomla dengan bahasa Indonesia melalui Google dengan kalimat “Apa itu Joomla?”, maka yang didapat adalah beberapa situs malaysia yang membuat identifikasi Jomla dengan baik. Selain Ilmu Komputer dot ORG tentunya (Ahh, saya bangga dengan ilmukomputer.org, walaupun bukan saya yang buat, melainkan Pak Romi dengan teman-temannya, tetap saja membuat saya bangga)

Apabila googling mencari dengan kalimat “Joomla adalah”, maka.. lagi-lagi.. situs-situs malaysia.

Ok ini beberapa FAQta mengenai Joomla.

Apa itu Joomla?
Joomla adalah Open Sorce CMS.

Apa itu CMS?
CMS adalah singkatan dari Content Management System.

Apa itu Content Management System?
Content Management System adalah Sebuah sistem yang digunakan untuk mengatur isi website dengan baik dan mudah.

Mengapa disebut Open Source?
Software/aplikasi web Joomla, terdiri dari kode-kode hasil karya programer-programer hebat dari penjuru dunia. Umumnya kode itu dijual, dan tidak murah. Inilah yang menjelaskan mengapa windows bajakan kamu tiba-tiba menjadi haram! Karena kamu harus membeli kode-kode itu, dul!
Open Source, adalah upaya untuk melepaskan kode-kode program kepada publik. Publik (yang mengerti) mengolahnya kembali menjadi lebih baik dan mudah diterima masyarakat (user friendly). Dan hasil yang sudah baik itu, diberikan secara cuma-cuma kepada masarakat.

Mengapa harus Content Management System?
Tidak harus man! Kata siapa harus? Content Management System dipakai karena keluwesannya mengatur isi website.

Apa maksudnya luwes?
Maksudnya adalah amat mudah diperbaharui dan dinamis. Kalau isi website kamu tadinya sedikit, lalu pada suatu hari tiba-tiba menyadari bahwa website kamu semakin berkembang dan banyak pengunjungnya. Maka kamu perlu website yang mudah dihandle. CMS Joomla adalah salah satu jawabannya.

Apa saja isinya Joomla?
Kalau kamu Blogger, maka kamu tahu, apa isi blog kamu. Nah, Joomla itu lebih lengkap daripada sekedar WebBlog. Kalau kamu bukan Blogger, dan mau membuat website, entah itu untuk dagang, untuk sekolah, untuk komunitas/organisasi, maka Joomla adalah salah satu aplikasi web yang baik dan mudah dipelajari.

Kenapa baik dan mudah?
Karena gratis dan gampang installnya. Selain itu, didukung oleh komunitas internasional yang banyak. Lebih hebat lagi, berbahasa Indonesia loh.

Saya newbie… ralat, saya dummies. Gimana dong?
Pengguna Joomla itu biasanya terbagi dalam tingkatan user.
- Ada Basic User, yang bisanya cuman nginstal dan pakai… kalau bosan, uninstall.
- Ada Advance User, yang udah bisa ngutak-ngatik dikit script PHP, XML, MySql.
- Ada lagi Jagowan User. Yang mengembangkan sistem ini. Mereka adalah perancang, pembuat, pengeksekusi, penangkal serangan musuh, pengaman sistem, pengembang serta pembuat template dan sebagainya. Selain hebat, mereka juga orang-orang yang murah hati. Mereka bekerja gratis, bo! Murni sukarelawan tanpa pamrih. Bahkan ada yang rela nama aseli nya nggak disebut. Bener-bener Hamba Allah yang tidak mau disebutkan nama aslinya (walopun tetap harus pakai nama nick di cyberworld, karena itu kewajiban etik jagowan).

Selain tiga kategori diatas, terdapat pula kategori temen-temennya jagowan, yaitu yang membantu jagowan mengembangkan sistem ini, mereka disebut 3rd party developer. Mereka ada yang volunteer, alias pekerja gratis…, adapula Soldier of Fortune, alias prajurit bayaran, menarik bayaran dari user yang mendownload program mereka. Semuanya sah-sah saja. Sebab biasanya harga 3rd party juga ga mahal-mahal amat kok.

Apa itu 3rd party?
Sudah hukum alam, namanya manusia tidak pernah puas. Kalaupun puas, itu amat relatif sekali. Begitupun berlaku pada dunia. Joomla sebagai aplikasi web itu sebenarnya sudah baik. Namun, tetap saja ada yang menginginkan feature/tampilan yang lebih baik. Misalnya, menampilkan data pribadi perusahaan dalam gambar 3 dimensi.
Untuk menjawab kebutuhan itu, ada orang-orang yang mampu menjawabnya serta membuatnya. Orang-orang tersebut membuat pelengkap. Nama kelengkapannya disebut 3rd party.

sumber: arif kurniawan blog

Download Mobile Athan Software 2.3

athanMobile Athan Basic 2.3 is free of charge. However, we are a non-profit organization and we need your support by purchasing Mobile Athan Plus 2.3 for $25. May Allah reward you for supporting the development of this software and islamicFinder.org and make it continuous sadaqah for you.
Source: http://www.islamicfinder.org/mobile/index.php

Belajar dari masa kecil Albert Einstein

Para orang tua dan guru yang berbahagia, Siapa yang tidak kenal Albert Einstain...sang jenius fisika penggagas terori relativitas, Mungkin sebagian besar kita semua belum mengetahui seperti apa Einstain kecil, dan seperti apa pada saat ia bersekolah, semoga dengan sedikit mengtahi masa kesilnya kita bisa mendapatkan pelajaran daripadanya.

Einstein seperti juga anak-anak lainnya adalah anak yang pada masa kecilnya biasa-biasa saja bahkan cerderung sebagai anak yang bermasalah dengan sekolah. Einstein adalah anak yang suka membangkang waktu bersekolah dia sering tidak mau mengikuti perintah gurunya malainkan hanya mau mengerjakan apa yang ia sukai yakni yang berhubungan dengan musik, membaca buku-buku sains, dan berlayar.

Einstain kecil tidak mau belajar apa bila ia tidak suka pelajarannya oleh karena itu ia sering bolos pada saat pelajaran bahasa, sastra dan menggambar. Ia membolos untuk melakukan aktivitas yang disukainya tadi. Sehingga pada akhirnya Einstein tidak berhasil lulus SMP, melainkan hanya mendapat keterangan pernah bersekolah SMP dari sekolahnya.

Berbekal surat keterangan tersebut ia nekad berusaha melamar di SMA, sebagian besar sekolah SMA yang didatanginya menolak, namun Einstein dan orang tuanya tidak pernah patah semangat untuk terus mencoba hingga akhirnya ada sekolah SMA yang menerimanya.

Setelah SMA kelakuannya masih sama saja tidak pernah berubah, ia hanya suka pelajaran Matematika dan Fisika saja, jadi Einstain masih sering membolos di pelajaran-pelajaran yang tidak dia sukai, sampai akhirnya ia kembali dinyatakan sebagai anak yang tidak tamat SMA. dan untuk kedua kalinya ia di nyatakan gagal lagi disekolah.

Namun hebatnya orang tua Einstein; tetap mendukung anaknya untuk terus berusaha melanjutkan sekolahnya; bahkan ia ikut membantu dengan berbagai hal agar anaknya bisa terus bersekolah.

Meskipun Einstein tahu ia tidak belum tamat SMA dan tidak punya pernah punya ijazah; ia tetap berani melamar ke perguruan tinggi; Nekad benar ya.... tapi kalau bukan nekad dan keras kepala bukan Einstein namanya.

Tahun 1895 ia melamar di Politeknik Federal, di Zurich Swiss tapi sayang ia gagal di ujian masuk dan menurut sekolah tsb, usianya pun masih terlalu muda. Lalu dia diminta menamatkan SMAnya terlebih dahulu, baru setelah itu ia melamar lagi dan akhirnya di terima sebagai mahasiswa di Politeknik Federal, Swiss.

Tahukah Einstain pada waktu ia ditanya Izajahnya, ia dengan tegas mengatakan bahwa saya tidak pernah punya Izajah tapi kemampuan saya boleh di uji, ya terutama di bidang Matematika dan Fisika. Saat itu kedua pelajaran itu memang sangat di perhitungkan

Kemudian setelah lulus Einstein kembali ke negara asalnya Jerman, dan setelah kembali ke sana ia banyak mengkritik sistem pendidikan di Jerman yang menurutnya banyak menghambat potensi unggul yang dimiliki oleh seorang anak. Ia juga banyak berseberangan dengan Otoritas Akademik di Jerman. Sehingga pada akhirnya dia memilih untuk tidak mau menjadi warga negara Jerman. Peristiwa ini terjadi pada saat Einstain berusia 20tahun.

Setelah itu Enstain mencari negara netral yang memberikan kebebasan warga negaranya untuk berekspresi, akhirnya pilihannya jatuh pada Negara Swiss. Akan tetapi karena pada perang dunia kedua dia merasa terdesak oleh Nazi di Swiss, dia juga mengajukan kewarganegaraan AS. Hingga akhir hayatnya dia memiliki 2 kewarganegaraan yakni Swiss dan AS.

Kalo kita perhatikan ciri-ciri Eistein ini mirip sekali dengan anak-anak yang cenderung dominan otak kanannya. Pertama Dia tahu apa yang dia mau dan dia juga tahu apa yang dia tidak mau. Yang kedua dia hanya mau mengerjakan apa yang dia mau, dan jika dipaksa dia cenderung akan melawan atau menghindar. Dan yang ketiga dia sangat fokus untuk bisa mencapai apa yang dia mau hingga akhirnya ia menjadi Ilmuwan besar dunia di abad 20.

Apa kira-kira Hikmah dari kisah ini.....mungkin beberap diantarnya adalah;

Yang pertama; Penting bagi kita semua orang tua dan guru untuk belajar memahami potensi unggul yang dimiliki oleh masing-masing anak. Yang kedua adalah; Kita tidak bisa lagi memaksaakan anak untuk bisa disemua bidang matapelajaran, dan melupakan kemampuan unggulnya. Dan yang ketiga adalah; Anak yang gagal di ujian bukan berarti dia gagal di kehidupan. karena bisa jadi justru soal-soal ujiannyalah yang keliru untuk menilai potensi unggul anak-anak kita.

Silahkan anda temukan sendiri apa bila masih ada hikmah lain dibalik kisah ini.
sumber: ayahkita.blogspot.com

Kamis, 23 April 2009

E-book buat yang mau jadi jutawan

Berikut ini adalah tawaran yang menarik tapi sangat aneh bin lucu bagi siapapun yang mau jadi jutawan mendadak. klik ajah http://www.ebooksampah.co.cc/

Rabu, 22 April 2009

Pelajaran penting dari buku Quantum Ikhlas

Keikhlasan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari. Tanpa keikhlasan, sebuah pekerjaan tidak akan terasa besar walaupun hasilnya besar. Tanpa keihklasan, semua aktifitas akan terasa menjemukan, membosankan, dan bahkan membuahkan keterpaksaan. Seseorang yang ikhlas akan nampak dari bagaimana dia menjalani kehidupan ini. Hati yang riang, semangat yang berkobar, senyum yang ada, mungkin salah satu indikator menandakan keihklasan seseorang.

Memang susah untuk memupuk keikhlasan. bagaimana, kapan, dimana, keiklhlasan itu bisa terjadi. Berikut ada beberapa cara agar keikhlasan tetap ada dalam diri seseorang:

Pertama yaitu niat yang benar.

niat merupakan awal dari keikhlasan. karena niatlah seseorang bisa mencapai apa yang diinginkanya. Niat menentukan apa yang akan dia raih. Seperti kata pepatah, apa yang kau dapat seperti apa yang kau pikirkan. Dengan merangkai niat yang baik, maka hasil yang didapat akan baik juga. Dengan kata lain niat berbanding lurus dengan hasil

Kedua, doa

Dalam sebuah buku "quantum ikhlas" ada 3 hal yang harus kita lakukan ketika berdoa yaitu:

a. Direction yaitu meminta dengan niat yang jelas.

Ungkapkan saja apa yang kita inginkan karena Allah maha pemurah terhadap hamba hambanya yang senantiasa mengharapkan pertolongan. Bukankah Allah SWT maha tahu, kenapa kita harus sejelas mungkin berdoanya? disitulah terletak kesungguhan kita terhadap apa yang kita doakan. Kita akan dinilai terhadap kesungguhan kita. Bukankah suatu kaum tidak akan berubah kecuali mereka bersungguh sungguh.

b. Obidience yaitu menyakinkan hati bahwa doa kan terkabul

Allah sesuai dengan persangkaan hambanya.Maka dari itulah kita harus menyakinkan diri bahwa doa kita akan terkabul. Persoalannya sekarang adalah bagaimana kita menata kesabaran kita terhadap kapan doa itu dikabulkan NYa

c. Acceptance yaitu menerima perasaan terkabulnya doa

Sama dengan diatas bahwa kita harus senantiasa "berperasaan positif'" terhadap doa kita.

Ketiga adalah syukur

Memang kadang kala kita lupa bersyukur atas nikmat yang telah kita terima. Kita senantiasa selalu memiliki perasaan tidak puas tehadap apa yang kita miliki. Kata kuncinya adalah selama kita hidup didunia ini akan ada orang yang akan selalu lebih (ganteng, cantik, kaya, pintar....) dari kita, namun ingatlah bahwa akan ada orang yang selalu lebih (buruk, jelek, miskin, bodoh ....) dari diri kita.

Maka beryukurlah atas apa yang ada sehingga kita akan mampu merasakan keihlasan dalam hidup ini.

2 kesimpulan penting hari ini

Ada 2 hal yang berhasil kusimpulkan selama ngajar di Fakultas Tarbiyah Bahasa Inggris ini.
1. Learning is an emotional experience alias belajar itu merupakan pengalaman emosional. jika kita emang seneng dengan subjek yang kita pelajari maka kita kan terdorong sibuk mempelajarinya. tetapi kalo udah ngga suka dengan satu subjek/mata pelajaran/mata kuliah maka kita ga bakalan sungguh-sungguh mempelajarinya. misalnya kalo udah ga suka dengan matematika dan bahasa inggris ya selamanya ga bakalan bisa kalo tidak mencoba reframing our mind!. makanya metode mengajar dan fasilitas belajar secanggih apapun ga bakalan jalan kalo siswa atau mahasiswanya ga ada semangat untuk belajar. untuk itulah guru dan dosen punya tanggungjawab besar gimana caranya agar siswa atau mahasiswa ada semangat belajar. aku jadi inget kata albert enstein: "saya tidak pernah mengajar tetapi saya hanya mensuasanakan siswa saya agar mau belajar".
2. the basic character of learning is individual alias sifat dasar pendidikan bersifat individual bukan massal. hanya mata kuliah tertentu yang bisa dibuat ceramah umum di kelas massal atau kelas besar. untuk pelajaran yang butuh skill seperti speaking atau writing perlu kelas yang lebih kecil .biar lebih fokus perhatian pembelajarannya.
untuk lebih lanjut baca aja artikel tentang homeschooling di blog ini : KLIK SINI YAAA

Koq bisa ya Soal Bahasa Inggris Bikin Stres?

asanya aneh banget membaca artikel dari KR.co.id dan Kompas.com yang berjudul :MASIH DIANGGAP MOMOK DALAM UNAS ; Matematika dan Bahasa Inggris Diberi Porsi Lebih apalagi mbaca yang ini : Ujian Nasional: Soal Bahasa Inggris Bikin Stres.
Berikut ini kutipan yang menarik bisa dibaca:
Rabu, 22 April 2009 | 11:02 WIB

Memasuki 10 menit terakhir, Arumi Rosvaningsih (18) gelisah. Air mukanya pucat. Masih ada 10 soal lagi terjawab dari total 50 soal ujian nasional Bahasa Inggris pada hari kedua UN di SMA Negeri 3, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Selasa (21/4).

Ketika bel sekolah berbunyi, tanda ujian berakhir, tubuh Arumi lemas dan dia pingsan. Teman-teman sekelasnya langsung membawanya ke ruang kepala sekolah untuk dirawat.

Tidak lama kemudian, siswa kelas III IPA 3 itu siuman, tetapi jari-jari tangannya masih pucat. "Tubuh saya menggigil. Dingin sekali," katanya.

Arumi mengaku, dia menggigil bukan karena belum sarapan pagi, tetapi karena dia merasa tertekan menghadapi soal-soal UN Bahasa Inggris yang begitu sulit. Bahkan jawaban untuk 10 soal yang tersisa di 10 menit terakhir, adalah hasil tebakan. "Saya sudah tidak baca lagi soalnya. Langsung saja saya isi jawaban sekenanya," katanya.

Menurut Arumi, soal UN Bahasa Inggris tahun ini lebih sulit ketimbang tahun 2008. "Hanya sebagian kecil soal-soal UN beberapa tahun lalu yang keluar pada UN sekarang," kata Arumi.

Beberapa rekan Arumi mengaku kewalahan menyelesaikan mata ujian tersebut. "Pusing! Pusing! Soalnya susah semua," ujar Hendra Purwanegara, peserta ujian lainnya.

Selain soal yang sulit, para siswa SMAN 3 itu mengeluhkan sikap guru pengawas yang berjalan-jalan di dalam kelas, membuat siswa bertambah panik menghadapi UN.

Beberapa siswa lainnya mengaku, guru pengawas sempat mengeluarkan sumpahan kepada murid yang panik mengerjakan soal, "Jujur! Kawus!" Artinya, kurang lebih, "Rasain kamu!"


dari kejadian diatas rasanya perlu dipikirkan ulang kekurangan-kekurangan yang selama ini terjadi dalam sistem pendidikan nasional kita. ada apa gerangan yang terjadi? kenapa siswa bisa jadi stres gara-gara merasa was-was dan takut dalam mengerjakan soal ujian nasional?.
pasti ada "something wrong on the system".
Kalo sudah begini saya jadi inget pengalaman saya belajar sejak dari SD sampe SMU .
(tahu ngga kalo saya belum pernah sekolah TK padahal ini sedang ditawari ambil S3 di UNS Solo....:D).
Betul-betul tidak menyenangkan belajar di sekolah-sekolah kita. rasanya sangat monoton dan membosankan. padahal ayah dan ibu saya adalah guru SMP Negeri di Jepara.masa-masa itu adalah masa-masa pemberontakan terhadap sistem belajar dan mengajar yang sangatt tidak membuat tertarik. makanya Fay kecil Fay Kecil sangat terkenal nakalnya. jarang mau ngerjakan PR dan sering dihukum oleh Bu guru dan Pak Guru.
namun semua itu berakhir ketika saya mulai kelas 2 SMU. itulah masa turning point yang sangat berkesan.
pada satu malam saya berpikir panjang tentang apa yang saya kehendaki dalam hidup. apa maksud hidup saya. mau jadi apa saya kelak. apa ya hidup itu ya terus main-main begini. kemudian "Hidayah" telah datang sehingga saya sangat rajin belajar hampir tak kenal lelah.
belajarnya sebelum berangkat sekolah, saat jam istirahat baca2 buku, setelah pulang sekolah masih sempat baca2, dan belajar di malam hari sebelum tidur. begitu terus berjalan sehingga bisa alhamdulillah dapat rangking satu, masuk ke English Department di Solo, jadi dosen dan sudah selesai S2 dan ngajar di kampus negeri sekarang ini.
Andaikan ngga ada turning point dalam hidup maka saya ga tau jadi apa saya sekarang. dan apa yang saya rasakan sejak kelas 2 SMU setahu saya belajar bahasa Inggris adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. demikian juga belajar matematika.
kenapa bisa menyenangkan? karena saya selalu membayangkan hal-hal yang kata mbah dipo, penulis blog pitutur.net,bisa manpangati misalnya dengan bahasa inggris kita bisa tahu apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh foreign people secara direct experience. jadi ga perlu penterjemah. coba bayangkan kalo omong2 sama orang asing sambil bawa kamus atau bawa buku. ya ketok elek banget noo..
trus English is the 1st international language jadi English can be used as a means or windows of the world. coba liat buku2 di perpus umum (bukan di UIN ato STAIN lo ya..) isinya mostly written in English. kalo setiap kalo kamu jumpa buku berbahasa inggris lha kapan majune. kapan pintere???
trus kalo pinter bahasa inggris bisa cari duit lebih banyak. seperti TKI dan TKW dari Filipina yang kerja di Middle East gajinya lebih banyak dari TKI/TKW kita karena pint er bahasa inggris.
trus tujuan yang paling mulia adalah tujuan dakwah. dengan tahu bahasa inggris kita bisa giving dakwah to foreign people yang saya tahu banyak yang atheist. ga kenal sama Allah SWT. saya dengar data statistik dunia penduduknya sudah 7,5 milyar. yang Islam 1,5 milyar, yang 6 milyar belum beriman. makanya kesempatan besar kalo kita bisa bahasa inggris bisa spreading kalimah La ilaha illalloh all over the world....

Senin, 20 April 2009

Another story of my cute daughter

Agak repot kemaren bawa anak saya Dira ke kampus pas umminya ikut darma wanita. Repotnya dia itu paling ga seneng naik bis. bisa dilihat wajahnya yang kelihatan ga suka. selama perjalanan dua jam ada saja tingkahnya. minta dipangku. pengen tidur selonjoran seperti tidur di kasur. Mungkin kami perlu beli mobil ya biar bisa dia bisa enjoy on the journey...?? hal ini terjadi mungkin karena dia biasanya kalo ke kota salatiga ini dari rumah dari solo naik motor. biasanya dia minta dipangku dan tidur sepanjang perjalanan. seperti dilelo-lelo atau ditimang-timang jadi cepet ngantuknya..
setelah nyampe di kampus alhamdulillah udah ceria lagi.

dira syifa

Fay Ahmed Facebook Badges

Profil | Buat Lencana Anda
Profil Facebook Fay Zatoichi Ahmed

Minggu, 19 April 2009

We have the right to change English

Berikut ini adalah artikel milik : Pak Hanung Triyoko dosen STAIN Salatiga yang sekarang sedang kuliah S3 di Melbourne, Aussie.
berikut ini artikelnya yang dimuat di The Jakarta Post:
We have the right to change English
By hanungtriyoko

We have the right to change English


Hanung Triyoko ,

The upcoming Asia TEFL Conference in Bali is too important to overlook.
It will be held from Aug. 1-3, 2008, and this year’s theme is Globalizing Asia: The Role of ELT.
What intrigues me most is to what extent this conference will contribute to Indonesian non-native English teachers’ efforts to implement successful English language teaching in classrooms across the country.
Will the conference inspire us to apply new approaches and methodologies based on the belief that English evolves as it spreads, and so there is no more “English” but rather many localized “Englishes”? Are we going to follow up the conference with agreement on ways to help students become proficient in Indonesian English?
For many here, the relation between language and identity is summed up in the familiar Javanese adage, Ajining diri ono ing kedaling lathi (The words you speak determine who you are). Simply put, it’s the essence of the relationship between language and identity.
This conference will perhaps prompt us to seek answers to why very few people are convinced ELT (English Language Teaching) in Indonesia is successful. Many English teachers here base their lessons around strict, unbending ideals of the language, and expect students to conform to these ideals. This can create, whether intentionally or not, a hostile atmosphere that at its heart, threatens the students’ Indonesian identity.
For instance, how many Indonesian English teachers find it funny when students speak English with a marked accent? I’d say far too many. Anybody would be discouraged from speaking a foreign language if all it brings is ridicule and mockery.
As English teachers, the language forms an inextricable part of our social and personal lives, but the extent to which it identifies us varies. It depends on our day-to-day experiences with English and our understanding of the role of the language in our future. A similar model may be applied to our students. Do not expect all of them to want to know the intricacies of English grammar, because not all of them will grow up wanting to be English teachers.
Many teachers try to mold their students into competent English speakers with an ability approaching native English speakers. Some still teach this way, but others are beginning to think critically in light of the different circumstances students now face, and because the use of English in our society has now reached a level that earlier teachers could never have anticipated.
How many English learners in Indonesia face situations where the use of their mother tongue is restricted? The vast majority, one would think. Most students use English when speaking to their teachers or peers, or when reading English textbooks.
And yet they should be allowed the option of reverting to their native language if it’s too difficult for them to convey their message in English, assuming the meaning is not lost in the switch.
And they should be able to turn to a dictionary or friends or teachers or other sources whenever they find it too difficult to understand written English passages.
The need to establish and recognize a local English — Indonesian English or Indoglish — is not without basis. Malaysian English and Singaporean English (Singlish) are already taken for granted, and the debate on whether certain nations or communities can claim ownership of their local version of English is considered moot because of the seemingly unstoppable rise of localized English worldwide.
However, the realization of this dream should start with our willingness to stop prioritizing the “correctness” of pronunciations and accents even when the message remains intelligible and the meaning is not lost.
We should also stop limiting students’ vocabularies to what is published in ELT books, as long as words that make up the new lexicon are widely accepted by the students. Someday, for instance, when the time is right, we may even see abbreviations such as “OIC” for “Oh, I see” in textbooks.
Brutt-Griffler (1998, p. 387) defines non-native English teachers as “non-native speakers” with the “authority” to spread as well as to change English. However this authority to change the language does not mean we can do so whimsically.
It should be used to enable us to express ourselves more clearly when talking to others about our cultures and beliefs. English colloquialisms mean little from an Asian perspective, but the ability to construct our own colloquialisms opens up whole new opportunities for us.
Take for instance the English phrases “Excuse me” and “I am sorry”, which in Bahasa Indonesia both translate as maaf. To native English speakers, there is a world of difference between the two expressions, but for non-native speakers there is a distinct advantage in being able to use one expression to mean two different things.
Many native English speakers feel their language is sufficient for all situations, and hence don’t see the benefits of switching to a localized vernacular in cases like this.
Most of us would agree there are major differences between the English our students are speaking and the English we as teachers speak. However, the differences are subtle, and it’s not that easy to pinpoint any concrete examples of this gap.
This can happen because very often we regard what our students write or say as mistakes or a failure to properly grasp the grammar. We judge them as such because we’ve been trained to compare them to accepted forms which we believe will never change.
Alternatively, we could consider these mistakes part of an emerging localized version of English, a language molded and influenced by the students and their understanding of a foreign language. We should welcome these differences with the hope that our students will eventually speak a similar English to us. The problem is we seldom see these differences for what they really are: the seeds of our very own localized English.

The writer is a lecturer at STAIN Salatiga and a student in the Master’s Program of Educational Leadership and Management, La Trobe University, Melbourne. He can be reached at hanungina@gmail.com

Rabu, 15 April 2009

Akibat Pergaulan bebas...

Di rumahku ada penghuni yang paling sulit dididik dan diatur. apa-apa semau gue. sudah begitu pergaulannya bebas lagi. maksudnya bebas disini kalo sama lawan jenis ga selektif. kemaren ada kasus hamil sama tetangga. penasaran sama penghuni rumah saya? namanya si Manis. kalo mau lihat foto cantiknya Klik sini, trus ini dia anak hasil pergaulan bebas si Manis : Klik sini : 3d smiley

Senin, 13 April 2009

Lomba Blog Bahasa dan Sastra 2009

LOMBA BLOG KEBAHASAAN DAN KESASTRAAN
PUSAT BAHASA DAN BALAI BAHASA BANDUNG
TAHUN 2009


A. TEMA KEGIATAN


Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2009 ini mengusung tema “Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Internet”.

B. PESERTA

Lomba ini terbuka bagi siapa saja. Jumlah, latar belakang usia, pendidikan, dan kewarganegaraan, serta domisili peserta tidak dibatasi. Namun, berkenaan dengan hadiah uang yang disediakan oleh panitia, pajak dan biaya transfer/pengiriman ditanggung oleh peserta pemenang.

C. KETENTUAN LOMBA

1. Kompetisi Blog akan berlangsung mulai tanggal 27 Februari s.d. Oktober 2009.

2. Pemutakhiran (updating) dilakukan dengan pemajangan (posting) artikel.

3. Penggubah blog dapat berinteraksi dengan pembaca dan mengembangkan diskusi tentang isu kebahasaan dan kesastraan Indonesia. Interaksi dan diskusi itu dapat dianggap sebagai pemutakhiran.

4. Peserta bebas berkreasi untuk mengembangkan tema lomba sejauh tidak dimaksudkan untuk menyerang pribadi, mengeksploitasi pornografi, atau memicu konflik SARA.

5. Foto atau bentuk grafis lain dapat digunakan untuk menunjang isi ataupun tampilan blog sejauh tidak bersifat mempromosikan produk atau jasa secara komersial. Penggunaan foto atau gambar tidak boleh melanggar hak cipta (copy rights).

6. Penyelenggara berhak menganulir materi blog yang tidak sesuai dengan tema atau mengarah ke pornografi atau konflik SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

7. Materi yang diikutsertakan pada kompetisi blog ini (artikel ataupun foto/gambar) akan menjadi hak milik Balai Bahasa Bandung. Materi terpilih akan menjadi salah satu artikel yang akan mengisi laman balaibahasabandung.web.id.

8. Keputusan tentang pemenang adalah hak prerogratif Balai Bahasa Bandung dan tidak dapat diganggu-gugat.

D. PERSYARATAN LOMBA


1. Isi blog dibatasi hanya pada masalah kebahasaan dan/atau kesastraan Indonesia.

2. Pembahasan boleh difokuskan hanya pada aspek tertentu dari bahasa dan sastra Indonesia.

3. Isi blog terutama memuat gagasan penggubah blog, yang dapat berupa pengembangan tanggapan pembaca.

4. Setelah melewati proses registrasi, peserta harus memutakhirkan (meng-up date) blognya secara berkala dengan pemajangan artikel ataupun diskusi/interaksi dengan pembaca.

5. Pemutakhiran blog dilakukan sampai dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan oleh penyelenggara kompetisi.

6. Memasang button di bawah ini secara permanen pada blog yang didaftarkan. Button dapat dipasang di header, di sidebar, atau di footer; tetapi bukan sebagai bagian dari posting. Button juga seharusnya ditampilkan di setiap halaman posting dan page yang relevan.

ini kodenya tinggal dicopaz..

”balaibahasabandung.web.id”


E. PENILAIAN


Beberapa hal yang dijadikan dasar penilaian untuk lomba blog ini adalah sebagai berikut.

1. Orisinalitas gagasan penggubah blog.

2. Nilai ilmiah gagasan penggubah blog.

3. Kreativitas penggarapan materi yang sesuai dengan tema dan tujuan lomba.

4. Popularitas blog yang ditunjukkan oleh banyaknya respon pembaca.

F. DEWAN JURI

Yang bertindak sebagai dewan juri pada lomba blog ini adalah

1. pakar bahasa dan sastra,

2. pakar IT

3. pakar jurnalistik dan publikasi

G. HADIAH

Hadiah yang akan diterima pemenang lomba blog adalah sebagai berikut.

Juara I : Rp4.000.000,-

Juara II : Rp3.000.000,-

Juara III : Rp2.500.000,-

Juara Harapan I : Rp2.000.000,-

Juara Harapan II : Rp1.500.000,-

Juara Harapan III : Rp1.000.000,-

G. PENGUMUMAN PEMENANG

Pemenang lomba blog akan diumumkan dalam acara Final Duta Bahasa Tingkat Nasional pada bulan Oktober 2009. Pengumuman ini akan ditampilkan pula di laman Pusat Bahasa (http://www.diknas.pusba.or.id) dan di laman Balai Bahasa Bandung (http://www.balaibahasabandung.web..id).
sumber: lombalomba.com

Minggu, 12 April 2009

Banyak gereja dijual di Inggris

gambar gereja rusak

London, alislamu.com – Lebih dari 60 gereja di Inggris ditutup setiap tahun. Ratusan uskup mengatakan, ribuan gereja hanya didatangi 10 jamaah atau kurang setiap hari minggunya. Laporan terpisah The Ecclesiological Society, yayasan penjaga gereja, menyebutkan, 4 gereja dari 4.000 ribu gereja hanya dihadiri tak lebih dari 20 jamaah. Laporan ini mengingatkan kemungkinan ditutupnya gereja tersebut karena sedikitnya pengunjung.

Yayasan mengatakan, jumlah warga Inggris yang melakukan ritual keagamaan meningkat dari 1 juta menjadi 3,5 % pada tahun 1970 dan 1,9 % pada tahun 2001. Tapi, dalam kurun waktu itu, 1.626 buah gereja Inggris ditutup, 360 darinya dihancurkan, 341 dipertahankan, dan 925 dirubah bentuknya menjadi tempat yang tidak ada kaitannya dengan keagamaan. Yaitu seperti perpustakaan, tempat olah raga, gedung pertunjukan, studio musik, ruang tarian, restoran, dan tempat tinggal.
Mendapatkan Tempat
Umat Islam Inggris terbilang sangat majemuk. Mereka terdiri dari pendatang dan keturunan mereka serta pribumi. Para pendatang juga berasal dari daerah berbeda seperti Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, dan Srilanka), Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia, Burma, dan Thailand), Timur Tengah (Mesir, Arab Saudi, Palestina, Yaman, Lebanon, Kuwait, Yordania, Iraq, Iran, Turki) dan Afrika (Algeria, Maroko, dan Somalia). Mereka juga menekuni profesi yang beragam seperti dokter, insinyur, akuntan, pegawai toko, pelayan, buruh, pedagang, olahragawan dan sebagainya.

Dalam beberapa waktu terakhir, muslim Inggris telah menggapai banyak perkembangan positif, apalagi dibandingkan 25 tahun lalu. Mereka telah memiliki sekitar 1.000 masjid. Mereka juga sudah berkesempatan untuk mengekspresikan diri setidaknya dalam 135 organisasi Islam semacam Muslim Council of Britain, Hizbut Tahrir, kepengurusan masjid, yayasan, organisasi pemuda atau mahasiswa Muslim. Hak untuk beribadah juga semakin didapatkan, misalnya, persetujuan Ratu Elizabeth II untuk mengizinkan pegawai istana Buckingham ke masjid untuk salat Jumat. Dakwah dan pendidikan Islam juga mulai mencatat perkembangan signifikan.

Satu hal paling menarik adalah fenomena pindah agama (convert) ke dalam Islam puluhan ribu pribumi berkelas, seperti anak mantan pejabat tinggi, selebriti dan keturunan keluarga terhormat. Sebut saja Yusuf Islam (Cat Stevens), Putra dan putri Lord Justice Scott, Matthew Wilkinson (putra Sir William Wilkinson, mantan Ketua the Nature Concervancy Council), Michael Raines (analis komputer terkenal), Joe Ahmed-Dobson (anak Frank Dobson, mantan menteri kesehatan Inggris), Jonathan Birt (anak Lord Birt, mantan direktur utama BBC), Emma Clark (cicit mantan PM Inggris, Herbert Asquith), The Earl of Yarborough (tuan tanah 28.000 hektare di Lincholnshire) dan sebagainya.

Di antara mereka ada yang ke-Islamannya di awali dengan kekaguman pada spiritualitas Islam. Ada juga yang terinspirasi tulisan Charles Le Gai Eaton. Mantan diplomat Inggris ini menerima surat dari banyak orang yang tidak setuju dengan Kristen yang semakin kontemporer dan mencari agama lain yang tidak begitu berkompromi dengan kehidupan modern. Uniknya, para mualaf ini dikenal lebih taat. Mereka juga sangat serius mendalami Islam sehingga tidak sedikit yang kemudian lebih pandai dari gurunya yang muslim keturunan.

Langkah Terbaik
Fenomena untuk saling memahami dan menghormati antara muslim dan nonmuslim atau pemerintah mulai terlihat. Melalui kerjasama dan dukungan Menteri Kemasyarakatan, Ruth Kelly, sekitar 100.000 anak belajar di madrasah sepulang sekolah umum atau akhir pekan. Dengan kurikulum yang secara khusus disusun oleh sekelompok masjid di Bradford bersama pemerintah, diharapkan bisa dihapusnya ekstrimisme dan anggapan bahwa budaya Islam dan Inggris saling bertentangan.

Agar tidak terus dipolitisasi untuk kepentingan negara tertentu, upaya redefinisi terhadap istilah terorisme merupakan sebuah keniscayaan. Dia seharusnya dilihat sebagai masalah kriminal yang bisa dilakukan oleh umat manapun. Kampanye perang terhadap terorisme telah gagal mengatasi akar masalah. Akibatnya, ketidakadilan makin dirasakan umat Islam, kemiskinan meraja lela dan dunia menjadi tidak lebih aman. Kondisi itulah yang merembet pada keharmonisan hubungan umat Islam dengan masyarakat Inggris yang telah terjalin ratusan tahun.

Masyarakat mayoritas yang nonmuslim sebijaknya berhenti menyuburkan “budaya korban” yang membesar-besarkan sikap antimuslim. Kaum muslim Inggris juga mesti terus berusaha meyakinkan bahwa tidak ada pembenaran teologis apa pun dari Islam terhadap tindakan teror. Mereka juga tidak perlu terus dihantui Islamofobia karena realitas ketidaksukaan terhadap Islam tidaklah seseram itu. Senantiasa mengamalkan ajaran sosiologis Islam yang sejuk, terbuka dan toleran merupakan langkah terbaik kaum muslim untuk menjadi tuan di tanah Inggris.(CMM/Zulheldi Hamzah) (alm/ha).
banyak gereja dijual di inggris: tiap tahun 60 gereja dijual.

Sabtu, 11 April 2009

Silakan Pasang iklan gratis disini!

Silakan Pasang iklan gratis disini!
a
klik ajah:
Forum bisnis islami

Selasa, 07 April 2009

Belajar Islam Mulai Diminati Negara Barat

Semakin meningkatnya siswi yang mempelajari pelajaran akademi sekaligus memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam, sekolah Islam Al Arqam juga semakin bersinar di Sacramento, ibu kota negara bagian California.

“Mereka (Al Arqam) mengajari apa yang perlu kami ketahui tentang Islam,” kata salah satu siswi di Al Arqam yang berusia 14 tahun, Ramseesha Sattar pada Jumat 13 Maret lalu.
Di dalam sekolah, para siswi diajarkan tentang keutamaan menggunakan Jilbab, menggunakan pakaian sopan namun tetap berkelas, serta memelankan suara ketika terdapat pria di sekitar mereka.
“Saya sangat menyukai berada di sini, dan peraturan-peratutan tersebut tidaklah berat bagiku.”
Berdiri sejak 11 tahun lalu, Al Arqam secara resmi telah mendapat akreditasi dari Asosiasi Sekolah dan Kampus Barat (WASC) sebagai satu-satunya sekolah Islam di wilayah California.
Al Arqam juga telah mendapat persetujuan dari ke-Sarjana-an Internasional sebagai sekolah pertama yang mendapat izin untuk membuka kelas privat (kelas yang biasanya hanya berisi 2-8 siswa) di California.
Sejauh ini sekolah tersebut telah menampung sekitar 300 pelajar, dengan 50 lainnya telah masuk dalam daftar tunggu untuk tingkat pendidikan yang lebih rendah.
Terlebih, karyawan sekolah tesrebut mengutarakan bahwa kebanyakan orang tua dari pelajar Muslim memilih sekolah tersebut daripada sekolah umum agar anak mereka mendapat pengetahuan yang cukup tentang Islam.
“Masyarakat Muslim di sini sangat menghargai pentingnya pendidikan,” kata Wakil Kepala Sekolah Dalia Wardany, yang juga memiliki tiga anak yang bersekolah di Al Arqam.
“Mereka mencari lingkungan yang dapat mengajarkan anak-anak mereka mengenai nilai-nilai Islam.”
Meski berasal dari latar belakang, suku, dan budaya berbeda, para pelajar berbagi satu agama, keyakinan, serta seragam yang menyatukan mereka.
Ketika jam menunjukkan pukul 13.15, para pelajar berhenti dari kegiatan belajar mereka dan bersiap melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.
“Tidak ada sekolah yang memberikan pendidikan semacam ini,” kata seorang wali murid, Gihad Silmi.
Sekolah tersebut juga telah dinilai berhasil membuka mata rakyat Amerika tentang pandangan mereka terhadap gaya hidup Islam dan Muslim.
“Sekolah tersebut sungguh telah membuka mataku,” kata Angelique Bradley, seorang wali murid SMP St. Francis yang pernah sekali waktu mengunjungi Al Arqam guna mempelajari tentang Islam.
“Saya tidak menyangka sekolah seperti ini dapat berdiri di sini.”
“Saya sangat terkesan dengan sikap para pelajar di sini, terutama sikap sopan mereka ketika menghadapi pengajar,” kagumnya.
Namun, kekaguman tersebut nampaknya belum dirasakan warga Amerika lainnya.
Ossama Kamel, seorang pelajar berusia 15 tahun, seringkali berolah raga bersama beberapa teman non-Muslimnya yang menyindirnya tentang ukuran kelasnya.
“Mereka mengejek, “Di kelasmu hanya ada empat siswa?,” kata Kamel sambil tertawa.
Namun dia mengerti bahwa sedikitnya jumlah pelajar bertujuan agar segala bentuk pelajaran dapat diterima dengan lebih baik.
“Mereka pikir kami dilatih untuk menjadi teroris,” keluh Kamel.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan Pusat Penelitian Gereja, sebagian besar penduduk Amerika tidak mengetahui banyak tentang Islam, dan hal tersebut membuat mereka tidak mengakui adanya hubungan antara Islam dan Nasrani.
“Kami belajar bagaimana cara menjadi Muslim yang baik – Muslim Amerika yang baik,” tutup Kamel.

sumberipun:

Minggu, 05 April 2009

Kelebihan & Kekurangan Homeschooling


Dipandang dari sisi positif dan negatifnya, Homeschooling memiliki beberapa pertimbangan penting. Dilihat dari sisi positifnya yang pertama homeschooling mengakomodasi potensi kecerdasan anak secara maksimal karena setiap anak memiliki keberagaman dan kekhasan minat, bakat, dan ketrampilan yang berbeda-beda. Potensi ini akan bisa dikembangkan secara maksimal bila keluarga memfasilitasi suasana belajar yang mendukung di rumahnya sehingga anak didik benar-benar merasa at home dalam proses pembelajarannya. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar pendidikan yang bersifat informal dan sangat dipengaruhi faktor emosional. Dengan metode homeschooling ini anak didik tidak lagi dibatas oleh empat tembok kelas yang sesak dan mereka bisa memilih tema pembelajaran yang diinginkan mereka.

Yang kedua, metode ini mampu menghindari pengaruh lingkungan negati yang mungkin akan di hadapi oleh anak di sekolah umum. Pergaulan bebas, tawuran, rokok dan obat-obat terlarang menjadi momok yang terus menghantui para orangtua, sementara mereka tak dapat mengawasi putra-putrinya sepanjang waktu.

Dilihat dari sisi negatifnya, yang pertama, dikhawatirkan siswa yang mengikuti metode pendidikan ini akan teralienasi dari lingkungan sosialnya sehingga potensi kecerdasan sosialnya tidak muncul. Kekhawatiran ini disanggah oleh Dhanang Sasongko Sekjen Asah Pena (Asosiasi Sekolah-Rumah dan Pendidikan Alternatif) yang mengatakan bahwa adanya sekolah-rumah bukan berarti steril dari masyakat. Untuk mengatasi problem ini sering diadakan kegitan di luar seperti ke pasar dan panti-panti. Metode Sekolah-Rumah bukan berarti belajarnya di rumah terus tetapi bisa juga di luar rumah yang penting dalam pembelajan anak didik merasa at home atau krasan dan senang dengan tema pembelajaran yang diikutinya. Sehingga pembelajaran bisa berjalan alami dan mandiri.

Yang kedua, Persoalan legalitas. Segudang pertanyaan muncul tentang bagaimana sikap dan pengakuan pemerintah tentang sekolah-rumah ini? Secara prinsip tidak ada masalah. Karena, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 27 ayat (1) dikatakan: ”Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.” Lalu pada ayat (2) dikatakan bahwa: ”Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud dlam ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah perserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.” Jadi secara hukum kegitan persekolahan di rumah di lindungi oleh undang-undang.

Direktur Pendidikan Kesetaraan Depdiknas Ella Yulaelawati Rumindasari menegaskan, UU SisDikNas mengakui sekolah-rumah sebagai bagian dari akses pendidikan. Depdiknas mendefinisikan sekolah-rumah sebagai proses layanan pendidikan yang secara sadar,teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat lain dimana proses belajar dapat berlangsung kondusif. Meskipun model persekolahan di rumah ini dijalankan secara informal orang tua yang menyelenggarakan homeschooling ini diwajibkan melaporkan kepada dinas pendidikan kabupaten atau kota setempat. Anak didik yang mengikuti homeschooling ini juga dapat mengikuti ujian kesetaraan paket A (setara dengan SD), paket B(setara dengan SMP) dan paket C (setara dengan SMU).

Maraknya model pendidikan alternatif diantaranya homeschooling ini perlu ditimbang sebagai partisipasi masyarakat dalam perluasan akses pendidikan dan perbaikan metode pembelajaran formal-konvensional yang cenderung bersifat kaku dan membosankan. Rasanya tidak perlu dipertentangkan mana yang lebih baik pendidikan formal atau informal.

Sementara ini ini sayangnya pemerintah hanya mendukung sebatas legalitas formal melalui UU SisDikNas yang menggolongkannya sebagai bagian dari pendidikan informal (keluarga). Perlu adanya dukungan yang lebih luas dan mendalam agar tujuan pendidikan yang mulia dan ideal yaitu membentuk anak-anak didik menjadi insan yang bertaqwa, mempunyai akhlak yang mulia segera bisa diwujudkan di negeri kita yang tercinta ini.

Jumat, 03 April 2009

Do you have a best friend?

kucinglucu
Nice Friendship Quote : "A true friend is someone who thinks that you are a good egg even though he knows that you are slightly cracked." -- Bernard Meltzer.

A friend is one who knows us, but loves us anyway. -- Fr. Jerome Cummings

Remember, the greatest gift is not found in a store nor under a tree, but in the hearts of true friends. -- Cindy Lew

Who finds a faithful friend, finds a treasure. -- Jewish Saying

"Your friend is the man who knows all about you, and still likes you."
-- Elbert Hubbard

"Who finds a faithful friend, finds a treasure."
-- Jewish saying

What is a friend? A single soul dwelling in two bodies. -- Aristotle

Don't walk in front of me, I may not follow.
Don't walk behind me, I may not lead.
Just walk beside me and be my friend.-- Albert Camus

"The only way to have a friend is to be one."
-- Ralph Waldo Emerson

The best way to destroy an enemy is to make him a friend.-- Abraham Lincoln


Hold a true friend with both your hands. -- Nigerian Proverb

"A faithful friend is the medicine of life."
-- Apocrypha

Some people come into our lives and quickly go. Some stay for awhile and leave footprints on our hearts. And we are never, ever the same.-- Anonymous



Friends are like melons; shall I tell you why? To find one good you must one hundred try. -- Claude Mermet

"Friendship multiplies the good of life and divides the evil."
-- Baltasar Gracian (1647)

"Friendship needs no words..."
-- Dag Hammarskjold.

"Friends are the sunshine of life."
-- John Hay (1871)

"The best mirror is an old friend."
--George Herbert

Kamis, 02 April 2009

Buku Spiritual teaching

Judul Buku : Spiritual Teaching : agar guru senantiasa
mencintai pekerjaan dan anak didiknya

Pengarang : Abdullah Munir
Penerbit : Pustaka Iman Madani
Tahun Terbit : Cet. III, Juli 2007
ISBN : 979-24-9866-4
Kolasi : 23 x 15,5 cm ; xvi + 128 hlm

Dalam Undang Undang Dasar 45 dan Undang Undang Pendidikan Nasional, diamanatkan bahwa Anggaran Pendidikan minimal 20% dari APBN, tetapi apadaya sampai saat ini anggaran pendidikan kurang lebih 12%. Mahatir Muhammad (mantan Perdana Menteri Malaysia) menyampaikan pada kuliah umum di Universitas Pancasila “ Jika suatu bangsa ingin maju maka pendidikan adalah kuncinya”
Pendidikan tanpa peran serta yang maksimal dari Pendidik (Guru : red) apalah artinya gedung bagus, fasilitas yang lengkap. Peran guru sangatlah penting, walaupun sekolah tidak mempunyai gedung tetapi proses belajar dapat berjalan , seperti sekolah alamnya Butet. Dalam karyanya Abdullah Munir mengajak pada kita semua khususnya para guru , guru bukanlah hanya pekerjaan tetapi suatu profesi yang dituntut untuk selalu siap dalam keilmuan , kemauan dan lebih-lebih kesiapan mental serta spiritual. Kesemua itu merupakan modal bagi guru untuk mewujudkan pendidikan sebagai pondasi dalam membangun bangsa dan Negara.
Mendidik dengan kemampuan mental dan spiritual yang diajukan oleh Munir bukanlah suatu yang gampang segampang membalikan kedua tangan, akan tetapi bukan suatu konsep yang tidak bisa dilakukan sama sekali oleh seorang guru , contoh yang kongkrit adalah penulis buku ini sendiri yaitu Abdullah Munir. Munir menawarkan konsep bahwa mendidik tidak hanya semata-mata pekerjaan dinas yang hanya diukur tingkat keberhasilannya dari hasil nilai siswa, tetapi Munir mengajukan guru merupakan kawan bermain, teman dikala susah sekaligus orang tua yang siap membimbing yang selalu memberikan rasa cinta, kasih dan sayang. Murid tidaklah dipandang sebagai obyek yang hanya mempunyai dua pilihan memathui peraturan atau hukuman, tetapi murid sebagai satu kesatuan yang utuh dalam interaksi guru dan murid. Guru harus mengetahui kondisi kejiwaan murid dan permasalahan yang dihadapi sehingga guru mampu memberikan solusi yang tepat dan sekaligus dapat memotovasi siswanya.
Munir dalam menyampaikan konsepnya menggunakan bahasa yang logis, enjoy dan enak dibaca dengan sisipan bahasa-bahasa gaul ala remaja, selain itu juga Munir menampilkan beberapa sosok pendidik yang telah mencurahkan pengabdiannya sebagai suatu fakta yang dapat memperkuat konsep kependidikan yang ditawarkan. Dengan ditampilkannya beberapa sosok pendidik dapat membangkitkan semangat pembaca sekaligus mengambil hikmahnya.
Betul kata pepatah “ Tiada Gading yang Tak Retak”, buku ini bagi saya memang luar biasa akan tetapi ada beberapa kekurangan diantaranya , pertama perwajahan (sampul) kurang menarik, kedua kemasan buku yang kurang lux, ketiga judul yang ditawarkan kurang dahsyat tidak sedahsyat isinya. Jika saja perwajahan (sampul) dibuat lebih menarik, kemasanya dibut lux atau judulnya sedikit diganti menjadi Power of The Teaching kemungkinan besar buku ini menjadi Best Seller , amin.
Isinya yang luar biasa dapat diketahui jika kita telah membacanya, tentunya penilaian peresensi bukanlah hanya penilaian subyektif, ini dapat dibuktikan bahwa buku yang saya baca adalah buku cet III Juli 2007 , buku ini pertama kali di cetak April 2006. Bisa jadi saat ini (Mei 2008) sudah dicetak ulang sekian kali. Jarang buku yang membahasa kependidikan dapat dicetak tiga kali kurang dari dua tahun.
Ok deh !, akhirnya saya merekomendasikan kepada Anda semua khususnya para guru, jika ingin berhasil menjadi pendidik, orang tua atau teman yang selalu dikenang, diharapkan kehdirannya dan selalu hidup dalam hati , maka bacalah buku ini.

Foto-foto lucu para presiden RI

diambil dari : www.ajangkita.com

sby

mega

gus dur

pa habibie

www.inkscape.org

Inkscape adalah sebuah perangkat lunak vector graphics editor yang bersifat Perangkat lunak bebas. Saat ini Inkscape masih dikembangkan dan dengan bantuan Gaussian blur sejak versi 0.45 telah mampu menghasilkan gambar SVG yang mutunya hampir sama dengan foto. Saat ini Inkscape belum mendukung animasi dan SVG fonts.

Inkscape dikembangkan terutama untuk Linux, namun bersifat cross-platform dan dapat dijalankan di bawah sistem operasi Microsoft Windows, Mac OS X, dan lain-lain. Lisensinya adalah GNU General Public License.

Inkscape dimulai pada tahun 2003 oleh Ted Gould, Bryce Harrington, Nathan Hurst, dan MenTaLguY, menggunakan bahasa pemrograman C++.

Sejarah

Inkscape dirintis pada 2003 sebagai sebuah code fork dari projek Sodipodi. Sodipodi sendiri, yang dikembangkan sejak 1999, didasarkan pada Gill, buah karya dari Raph Levien.

Fork itu dipandu oleh sebuah tim berjumlah empat orang, para mantan pengembang Sodipodi (Ted Gould, Bryce Harrington, Nathan Hurst, dan MenTaLguY) yang mengenali perbedaan-perbedaan dari tujuan-tujuan projek itu, keterbukaan bagi kontribusi pihak ketiga, dan ketidaksetujuan teknis sebagai alasan mereka melakukan forking. Dengan Inkscape, mereka berpendapat bahwa mereka dapat memfokuskan pengembangan pada penerapan standar SVG secara lengkap, padahal pengembangan Sodipodi menekankan pembuatan sebuah editor grafik vektor yang bertujuan umum, mungkin karena mahalnya SVG.

Karena fork itu, Inkscape bergeser dari menggunakan bahasa program C ke C++; berubah ke GTK+ toolkit C++ bindings (gtkmm); merancang ulang antarmuka pengguna dan menambahkan sejumlah fitur baru. Penerapannya terhadap standar SVG telah menunjukkan perbaikan yang signifikan, meski belum lengkap.

Lebih baik daripada prinsip perintah atas-ke-bawah, para pengembang dikondisikan dengan budaya kesetaraan di mana otoritas bermunculan dari kemampuan para pengembang secara perseorangan dan keterlibatan yang aktif di dalam projek. Hasilnya, projek ini menempatkan penekanan istimewa pada pemberian akses penuh kepada cadangan kode sumber bagi semua pengembang yang aktif, dan pada keikutsertaan di dalam komunitas open source yang lebih luas (seringkali berbentuk inisiatif antar-projek dan projek-projek pertukaran seperti Open Clip Art Library). Sementara para pendiri projek masih terwakili secara baik pada proses pengambilan putusan, banyak pendatang baru juga ikut memainkan peranan penting. Di antara mereka adalah "bulia byak", arsitek dari perubahan antarmuka pengguna yang radikal yang telah memberi Inkscape sebagai bentuknya sekarang. Antarmuka baru itu berorientasi pada GUI-nya Xara Xtreme.

Setelah Xara meluncurkan rencana untuk merilis aplikasi pelukisan Xara Xtreme ke dunia open source, mereka mengungkapkan minat untuk bekerja dengan Inkscape untuk menemukan jalan kedua-dua projek ini saling berbagi kode, usaha terkoordinasi, dan membuat grafik open source lebih hebat daripada grafik apapun yang tersedia di dunia proprietary.

Sejak 2005, Inkscape ikut serta di dalam Summer of Code, program dari Google.

Hingga penghujung November 2007, sistem pencarian kesalahan program Inkscape ditanam di Sourceforge, tetapi itu dinyatakan pada 21 November 2007, bahwa mereka akan memindahkannya ke Launchpad.

pengen coba dowload ?: donlot abiiiiiz: klik sini ya

Rabu, 01 April 2009

Who is leonard Bloomfield?

Leonard Bloomfield (April 1, 1887 – April 18, 1949) was an American linguist who led the development of structural linguistics in the United States during the 1930s and the 1940s. His influential textbook Language presented a comprehensive description of American structural linguistics.[1] He made significant contributions to Indo-European historical linguistics, the description of Austronesian languages, and description of languages of the Algonquian family.

Bloomfield's approach to linguistics was characterized by its emphasis on the scientific basis of linguistics, adherence to behaviorism especially in his later work, and emphasis on formal procedures for the analysis of language data. The influence of Bloomfieldian structural linguistics declined in the late 1950s and 1960s as the theory of Generative Grammar developed by Noam Chomsky came to predominate.
Indo-European linguistics

Bloomfield's earliest work was in historical Germanic studies, beginning with his dissertation, and continuing with a number of papers on Indo-European and Germanic phonology and morphology.[20][21] His post-doctoral studies in Germany further strengthened his expertise in the Neogrammarian tradition, which still dominated Indo-European historical studies.[22] Bloomfield throughout his career, but particularly during his early career, emphasized the Neogrammarian principle of regular sound change as a foundational concept in historical linguistics.[23][24]

Although Bloomfield's original work in Indo-European beyond his dissertation was limited to an article on palatal consonants in Sanskrit,[25] and one article on the Sanskrit grammatical tradition associated with Pāṇini,[26] in addition to a number of book reviews, he made extensive use of Indo-European materials to explain historical and comparative principles in both of his textbooks, An introduction to language (1914), and his seminal Language (1933).[27] In his textbooks he selected Indo-European examples that supported the key Neogrammarian hypothesis of the regularity of sound change, and emphasized a sequence of steps essential to success in comparative work: (a) appropriate data in the form of texts which must be studied intensively and analysed; (b) application of the comparative method; (c) reconstruction of proto-forms.[28] He further emphasized the importance of dialect studies where appropriate, and noted the significance of sociological factors such as prestige, and the impact of meaning.[29] In addition to regular change, Bloomfield also allowed for borrowing and analogy as forms of linguistic change.[30]

It is argued that Bloomfield's Indo-European work had two broad implications:(a) "He stated clearly the theoretical bases for Indo-European linguistics..."; (b) "...he established the study of Indo-European languages firmly within general linguistics...."
more articles: http://en.wikipedia.org/wiki/Leonard_Bloomfield

Foto Dira pas umur 4 tahun

sany0018

resized_sany0001
sany0017

sany0009

Direct method (education)

From Wikipedia, the free encyclopedia


The Direct Method, sometimes also called Natural Method, is a method for teaching foreign languages that refrains from using the learners' native language and just uses the target language. It was established in Germany and France around 1900. Characteristic features of the direct method are

* teaching vocabulary through pantomiming, realia and other visuals
* teaching grammar by using an inductive approach (i.e. having learners find out rules through the presentation of adequate linguistic forms in the target language)
* centrality of spoken language (including a native-like pronunciation)
* focus on question-answer patterns
* teacher-centeredness
Principles

1. Classroom instructions are conducted exclusively in the target language.
2. Only everyday vocabulary and sentences are taught.
3. Oral communication skills are built up in a carefully graded progression organized around question-and-answer exchanges between teachers and students in small, intensive classes.
4. Grammar is taught inductively.
5. New teaching points are introduced orally.
6. Concrete vocabulary is taught through demonstration, objects, and pic­tures; abstract vocabulary is taught by association of ideas.
7. Both speech and listening comprehensions are taught.
8. Correct pronunciation and grammar are emphasized.

[edit] Historical context

The Direct Method was an answer to the dissatisfaction with the Grammar Translation Method, which teaches students in grammar and vocabulary through direct translations and thus focuses on the written language.

There was an attempt to set up such conditions as would imitate the mother tongue acquisition. For this reason the beginnings of these attempts were marked as the Natural Method. At the turn of the 18th and 19th centuries, Sauveur and Franke proposed that teaching language should be undertaken within the target-language system; this was the first stimulus for the rise of the Direct Method.

Later, Sweet recognized the limits of the Direct Method and proposed a substantial change in methodology, introducing the Audio-Lingual Method.

References


* Bussmann, Hadumod (1996), Routledge Dictionary of Language and Linguistics, London/New York, s.v. direct method
* Krause, C. A. (1916), The Direct Method in Modern Languages, New York.
sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Direct_method_(education)

Audio-Lingual Method

The Audio-Lingual Method, or the Army Method or also the New Key[1], is a style of teaching used in teaching foreign languages. It is based on behaviorist theory, which professes that certain traits of living things, and in this case humans, could be trained through a system of reinforcement—correct use of a trait would receive positive feedback while incorrect use of that trait would receive negative feedback.

This approach to language learning was similar to another, earlier method called the Direct method. Like the Direct Method, the Audio-Lingual Method advised that students be taught a language directly, without using the students' native language to explain new words or grammar in the target language. However, unlike the Direct Method, the Audiolingual Method didn’t focus on teaching vocabulary. Rather, the teacher drilled students in the use of grammar.

Applied to language instruction, and often within the context of the language lab, this means that the instructor would present the correct model of a sentence and the students would have to repeat it. The teacher would then continue by presenting new words for the students to sample in the same structure. In audio-lingualism, there is no explicit grammar instruction—everything is simply memorized in form. The idea is for the students to practice the particular construct until they can use it spontaneously. In this manner, the lessons are built on static drills in which the students have little or no control on their own output; the teacher is expecting a particular response and not providing that will result in a student receiving negative feedback. This type of activity, for the foundation of language learning, is in direct opposition with communicative language teaching.

Charles Fries, the director of the English Language Institute at the University of Michigan, the first of its kind in the United States, believed that learning structure, or grammar was the starting point for the student. In other words, it was the students’ job to orally recite the basic sentence patterns and grammatical structures. The students were only given “enough vocabulary to make such drills possible.” (Richards, J.C. et-al. 1986). Fries later included principles for behavioural psychology, as developed by B.F. Skinner, into this method.

Oral Drills

Drills and pattern practice are typical of the Audiolingual method. (Richards, J.C. et-al. 1986) These include
Repetition : where the student repeats an utterance as soon as he hears it
Inflection : Where one word in a sentence appears in another form when repeated
Replacement : Where one word is replaced by another
Restatement : The student re-phrases an utterance

Examples

Inflection : Teacher : I ate the sandwich. Student : I ate the sandwiches.
Replacement : Teacher : He bought the car for half-price. Student : He bought it for half-price.
Restatement : Teacher : Tell me not to shave so often. Student : Don't shave so often!


The following example illustrates how more than one sort of drill can be incorporated into one practice session :
“Teacher: There's a cup on the table ... repeat
Students: There's a cup on the table
Teacher: Spoon
Students: There's a spoon on the table
Teacher: Book
Students: There's a book on the table
Teacher: On the chair
Students: There's a book on the chair
etc.”
sumberipun niki nggih: http://en.wikipedia.org/wiki/Audio-Lingual_Method

Quantum Ikhlas: Gabungan IQ, EQ, dan SQ yang Fenomenal


Judul Buku: Quantum Ikhlas

Penulis: Erbe Sentanu
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: (sekitar) Rp. 70.000

menyetel hati dulu, baru pikiran positif

Membaca buku Quantum ikhlasnya pak erbe sentanu dan semua artikel tentang positive feeling membuatku memiliki wawasan baru bahwa yang terpenting kita harus selalu beramal atau bertindak apa saja ikhlas karena Allah dan semua itu didasari dengan keyakinan bahwa jika kita memang berniat positif maka akan positif juga pikiran dan tindakan kita. jika semua udah disetel secara positif maka akhwal atau keadaan di sekitar kita akan jadi positif.
kalo udah begini aku jadi inget bahwa orang terkenal seperti napoleon bonapate walopun dia kafir tetapi kalo dia Islam dia akan jadi orang hebat bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. aku inget pepatah terkenalnya "Impossible can only be found in the dictionary of idiot' bagi dia tidak ada kata impossible untuk setiap keinginan dia. coba kalo dia pengen masuk sorga dengan pepatahnya itu wah jadi orang hebat bener...
btw, buat my students of the last semester (last generation but the best..:D) cobalah menyetel hatimu bahwa kamu insyaAllah pasti akan lulus dengan nilai baik, dapet kerjaan yang bagus dan dapet jodoh yang solih atau solihah tergantung gendernya...InsyaAllah pikiran kita jadi positif dan semua gerak aktifitas diri kita kearah yang positip pula..
ingatlah apa yang akan terjadi dalam hidup kita tergantung persangkaan kita pada Allah SWT. jika jiwa kita positif Allah akan positifkan jiwa kita dan kita akan jadi orang yang kaya hati...
semoga oh semoga...

SOSIALISASI TINGKAT TUTUR KRAMA

Pengkajian tentang penggunaan bahasa tidaklah cukup dilihat dari dalam bahasa itu sendiri tetapi harus dikaji juga dari luar ilmu linguistik. Dengan kata lain pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor linguistik saja tapi juga ditentukan oleh faktor-faktor sosial (Suwito:1985:3). Faktor-faktor situasional juga berpengaruh, yaitu siapa yang berbicara dengan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dimana. Seperti yang dikemukakan oleh Fishman (1972:15) yaitu who speaks, what language, to whom and when.
Namun demikian pemakaian sebuah bahasa tertentu sebagai contoh adalah penggunaan bahasa Jawa dalam praktik kesehariaannya kadangkala belum sesuai dengan kaidah-kaidah pemakaian bahasa yang benar. Sebagai contohnya ialah pengalaman nyata ketika ibunda saya berjumpa dengan mantan siswanya saat Lebaran beberapa tahun yang lalu. Perlu diketahui bahwa ibunda saya adalah seorang guru senior di sebuah SMP Negeri di Kota Jepara. Tiap Lebaran ada saja para siswa dan alumni yang datang untuk silaturahmi. Salah satu peristiwa menarik adalah datangnya salah seorang mantan siswa yang sekarang sudah dewasa, berkeluarga dan jadi pengusaha kaya. Mungkin saja maunya mantan siswa ini bernoltasgia, bercerita tentang kesuksesan-kesuksesan yang dicapai selama ini dan juga berterimakasih atas jasa gurunya di masa lampau. Namun alangkah tragisnya ketika dia bercerita pada ibunda saya dari awal sampai akhir dengan memakai bahasa Jawa tingkat tutur Ngoko. Misalnya ia berkata,” Piye,Bu kabare? Sehat yo? Piye kabare guru-guru liyane? Podo Sehat kabeh yo?”. Hal ini tentu saja membut ibu saya sama sekali tidak respek dan tidak enak hati. Sampai-sampai ibu saya berkata, ”Kamu ini gimana tho,Le? Karo wongtuwa koq ora iso boso? Jan kebangetan kowe iki…Opa ora diajari wongtuwamu??..”

Kisah nyata di atas merupakan satu gambaran nyata tentang betapa tingkat tutur krama telah mulai luntur pada generasi muda kita. Hal ini tidak hanya terjadi di kota Jepara yang notabene daerah pantai utara yang jauh dari kraton bahkan menurut penelitian Dr.Maryono Dwiraharjo dari Fakultas Sastra UNS di Solo dan sekitarnya penggunaan tingkat tutur krama di kalangan generasi muda telah mulai luntur dan terabaikan. Hal ini termasuk fenomena yang memprihatinkan karena Solo adalah salah satu dari dua episentrum budaya dan bahasa Jawa.
Fenomena semacam ini layak untuk dijadikan bahan kontemplasi: Kenapa bisa terjadi demikian? Siapa yang salah? Bagaimana solusinya?. Saya pribadi berpendapat tidaklah tepat kita berprinsip ala pepatah buruk muka cermin dibelah. Mari koreksi diri ; Jangan mudah menyalahkan orang lain. Perlu ada koreksi kedalam terutama pada peran para orangtua di rumah dan pendidik di sekolah di Solo dan sekitarnya. Yang perlu dicermati adalah seberapa penguasaan tingkat tutur krama ini telah diajarkan dan disosialisasikan kepada anak didiknya di tingkat keluarga dan sekolah.
Meski ada juga yang tidak atau mungkin kurang sependapat—terutama orang-orang yang perpandangan liberal dan egalitarian, saya tetap meyakini bahwa apabila tingkat tutur krama ini diajarkan sejak dini pada anak didik maka unggah-ungguh atau kesopanan yang merupakan bagian dari budi perkerti mulia akan bisa diinternalisir secara mendalam di hati sanubari anak didik kita. Setidaknya generasi muda keturunan orang Jawa mau berpikir dua kali atau tiga kali jika mau matur kepada orang yang lebih dewasa.
Salah satu solusi yang bisa dibuat adalah perlunya membangkitkan kesadaran para orangtua dan pendidik untuk membiasakan kepada anak didiknya dengan menggunakan tingkat tutur krama saat berada di rumah atau sekolah. Cara yang efektif adalah menyelipkan kalimat-kalimat krama kalau perlu Krama Inggil dalam berdialog, saat mengajar atau berbicara kepada anak asuhnya. Salah satu contoh menarik adalah kalimat-kalimat seorang guru kepada siswanya yang diungkapkan oleh Soepomo Poedjasoedarmo dalam bukunya berjudul “Tingkat Tutur Bahasa Jawa” berikut ini.
Guru: “Bocah-bocah, sak iki Ibu Guru kagungan cangkriman. Cangkrimane gampang banget. Sego sekepel dirubung tinggi iku apa? Hayo sapa kang ngerti? Sinten ingkang priksa? Anton, sampun priksa?”

“Anak-anak, sekarang Ibu Guru mempunyai teka-teki. Teka-teki ini mudah sekali. Nasi sekepal dikerumuni kutu busuk itu apa?Ayo siapa tahu? Siapa yang tahu? Anton, tahu?” (1979:54).

Sekilas mungkin terasa aneh sekali jika kita mendengar Ibu guru berkata kepada murid-muridnya “Sinten ingkang priksa” kemudian bertanya kepada si Anton “Anton, sampun priksa”. Kenapa Ibu guru itu harus meninggikan kedudukan muridnya dengan menggunakan kalimat Krama? Bukankah hal ini terbalik; seharusnya siswa yang menggunakan tingkat tutur krama pada gurunya ?. Hal ini jika kita amati dalam kehidupan masyarakat Jawa secara umum bukanlah kejadian yang aneh. Para ibu di rumah dan guru di tingkat taman kanak-kanak dan kelas terendah di Sekolah Dasar sering menyelipkan kalimat-kalimat Krama dalam berbicara keapda anak asuh mereka sebagai salah satu cara yang efektif untuk mendidik anak asuh mereka. Dengan kalimat-kalimat Krama yang secara langsung ditujukan kepada anak asuh atau anak didik diharapkan bahwa si anak akan menjawab dengan tingkat tutur Krama pula. Jika seorang anak tidak pernah dibiasakan berkomunikasi dengan tingkat tutur yang halus dan sopan saya kira sampai kapanpun dia tidak akan bisa menggunakan tingkat tutur krama dengan baik dan benar. Kenapa demikian?. Seorang anak kecil akan menjawab dalam tingkat tutur Ngoko bila orang yang lebih dewasa bertanya kepadanya dalam Ngoko. Oleh karena itu mari kita sosialisasikan tingkat tutur krama ini dimulai dari kita sendiri selaku orangtua atau pendidik membiasakan tingkat tutur krama kepada anak-anak kita. Bagaimana sikap Anda?. Mau?.



BIBLIOGRAFI:
Ibrahim, Abd. Syukur. 1995. Sosiolinguistik; Sajian Tujuan, Pendekatan, dan Problem-problemnya. Surabaya. Penerbit Usaha Nasional.
Fishman, Joshua. 1972. The Sociology of Language. Massachusetts. New House-Ramley Publishers.
Poedjosudarmo, Soepomo. 1979. Tingkat Tutur Bahasa Jawa. Jakarta. Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Suwito, 1985. Pengantar Awal Sosiolinguistik, Teori & Problem. Surakarta. Henary Press.

Nuansa rasa leksikon bahasa Jawa

Setiap bahasa tentunya memiliki keunikan dan kekhasan yang dibanggakan oleh setiap bangsa yang menjadi pemilik dan penggunanya. Masing-masing bahasa memiliki kekhasan yang terkadang sulit ditemukan pola atau sistem yang sama persis dalam bahasa-bahasa lain. Misalnya orang Inggris bangga dengan bahasanya yang memiliki 16 pola tenses atau kala yang cukup rumit. Sampai-sampai ada bentuk kala dengan pola past future perfect continous yang jika diartikan “telah akan sedang berlangsung”. Bagi kita yang sudah sangat terbiasa dengan pola kala Bahasa Indonesia yang relatif sederhana tentunya sangat aneh memahami bahwa ada kombinasi suatu pekerjaan yang “telah terjadi” dan juga “sedang berlangsung” di masa yang akan datang. Hal ini konon merupakan refleksi bahwa mereka sangat menghargai waktu. Mereka tidak kenal rubber time atau jam karet. Contoh yang lain adalah orang Hindustan yang bangga dengan bahasa Urdu. Bahasa ini punya ciri pemerlain yang unik pada rangkaian kalimat-kalimat yang terdengar begitu puitis karena kebanyakan kalimatnya diakhiri dengan kata “hai”. Misalnya kalimat “Apka kia nam hai? (Siapakah nama anda?)”, “Pakistani ham char sati hai (Kami berempat dari Pakistan)”, “Kia bolte hai? (Apa yang dia katakan?)” dan yang populer disini film dan lagu berjudul “Kutch-kutch hota hai” (Aku merasakan sesuatu terjadi padaku ketika engkau mendekat kepadaku). Kata “hai” ini adalah to be atau kata kerja bantu yang selalu diletakkan di akhir kalimat.
Nah, jika orang Inggris dan orang India-Pakistan punya kebanggaan yang khas dengan bahasa mereka bagaimana dengan orang Jawa? Apakah orang Jawa terutama generasi mudanya benar-benar bangga punya bahasa Jawa? Jika saja bahasa Jawa sudah dianggap kuno dan usang tentunya situs mesin pencari terbesar sedunia Google.com tentunya tak mau menyediakan menu Google Boso Jowo sebagai salah satu peranti bahasa pilihan. Lalu jika memang benar demikian kemudian aspek apa dari bahasa Jawa yang bisa dibanggakan?.
Untuk menjawab hal ini akan disampaikan satu fenomena yang sangat menonjol dari bahasa Jawa yang semoga membuat kita sadar sepenuhnya akan kelebihan bahasa Jawa. Fenomena kebahasaan ini rasanya sulit ditemui padanannya jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain yang kita kenal.
Menurut Profesor E.M Uhlenbeck, pakar bahasa Jawa dari Belanda (Aneh bin ajaib ya, pakar bahasa Jawa kok malah orang bule?) bahasa jawa dipenuhi oleh leksikon emotif ekspresif. Contohnya leksikon kemresek, kemrosok, kemrusuk, dan kemrisik yang semuanya menyatakan bunyi berkerisik benda-benda seperti daun-daun, air terjun dan lain sebagainya dengan tingkat kekerasan dan kejelasan yang berbeda. Contoh lain adalah leksikon krik-krik yang mengacu pada suara hewan jangkrik dan leksikon cek-cek mengacu pada suara hewan cecak. Secara semantik contoh-contoh di atas mengacu pada kekhasan masyarakat agraris tradisional yang dekat dengan alam secara morfologis (Uhlenbeck:163).
Leksikon emotif ekspresif disebut juga leksikon periferal atau “pinggiran” atau leksikon yang bersifat non-arbitrer. Kenapa disebut non-arbitrer? Karena ada kesamaan spesifik antara aspek formal dan aspek semantik. Misalnya kata pethingil atau methingil mengacu pada munculnya “benda” kecil seperti tikus atau jangkrik. Kata Prof.D.Edi Subroto, guru saya di pascasarjana UNS, secara fonestemik bunyi “i” ada nuansa benda-benda yang kecil, ringan, lembut dan halus. Apabila ada fonem vokal “i” berubah menjadi “u” kemudian menjadi “o” menandakan entitas itu berangsur-angsur menjadi semakin besar, berat dan kasar. Contohnya adalah gradasi yang terjadi pada kata pethingil menjadi pethungil dan pethongol. Atau methingil menjadi methungul dan akhirnya menjadi methongol. Gradasi semacam ini bisa dijelaskan secara fonetik karena ruang resonansinya kecil atau sempit. Contoh lain adalah gradasi kata-kata itir-itir menjadi utur-utur kemudian menjadi otor-otor.
Contoh-contoh itu jelas menunjukkan bahwa bahasa Jawa sangat kaya akan nuansa rasa. Untuk lebih memahami kekayaan unsur emotif ekspresif dalam leksikon di atas cobalah menterjemahkannya dalam bahasa Indonesia, bahasa Inggris atau bahasa lain apa pun yang Anda ketahui. Rasanya sangat sulit menemukan padanan terjemahan kata yang sama persis nuansa rasanya.
Contoh-contoh gradasi di atas meski sepintas kelihatan sederhana sudah pernah dipresentasikan di International Conference of Austronesian Linguistics di Pulau Bali di tahun 1987. Contoh-contoh ini ternyata pernah menjadi bahan kajian seminar yang pada saat itu mendapatkan tanggapan meriah para pakar linguistik se Asia-Pasifik.

Asingnya Bahasa Inggris di Negeri Ini

ebuah fakta yang sulit dibantah bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa pergaulan internasional nomor satu di dunia. Sebuah fakta yang mudah dibuktikan di perpustakaan negeri manapun dengan masih banyaknya buku-buku dan teks-teks yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.
Di sisi yang lain penggunaan bahasa Inggris di negeri ini masih dianggap sebagai bahasa yang “asing”. Hal ini dikarenakan politik bahasa nasional masih mendudukkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing, bukan sebagai bahasa pengantar di sekolah dan kampus kecuali di kelas-kelas tertentu di sekolah berstandar internasional (SBI). Hal ini berbeda dengan srategi politik bahasa di Malaysia dimana bahasa Inggris merupakan bahasa pengantar di sekolah dan kampus, meskipun bahasa melayu masih tetap dijadikan sebagai bahasa nasional atau resmi.
Seorang kenalan dari Malaysia yang sedang mengambil studi Kedokteran di UNS bercerita bahwa salah satu sebab majunya pembangunan di seantero Malaysis adalah karena digunakkannya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan sehingga tidak ada lagi hambatan bahasa dalam mempelajari ilmu apapun yang diberikan di sekolah dan di kampus.
Fakta tersebut berbeda dengan yang saya alami selama ini yang sudah mengajar tujuh tahun di universitas dan sekolah tinggi. Masih banyak hambatan bahasa sehingga kemajuan pengetahuan anak didik dan mahasiswa menjadi lambat. Sebagian besar mahasiswa yang saya jumpai baik di universitas baik negeri maupun swasta belum memiliki kemampuan untuk berbicara dan mengarang dalam bahasa Inggris secara aktif. Kondisi yang memprihatinkan ini semakin diperparah dengan adanya phobia bahwa dengan diberlakukannya bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah dan kampus akan menggeser dan menggusur peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Hal ini rasanya perlu dikaji lebih lanjut. Dalam kondisi carut-marut politik dan sosial sekarang ini apakah bahasa Indonesia masih benar-benar berperan sebagai bahasa pemersatu? Apakah negeri ini akan runtuh jika menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di dunia pendidikan kita? Rasanya ini adalah ketakutan yang berlebihan. sudah saatnya politik bahasa nasional diubah dengan menjadikan bahasa Indonesia tetap sebagai bahasa nasional atau bahasa resmi sedangkan bahasa kedua di sekolah dan kampus sebagai pilihannya adalah bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Ibu Guru mengganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tidak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. Ia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar isika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri. [diambil dari cover belakang buku]

Review:

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela merupakan sebuah novel non fiksi karya Tetsuko Kuroyanagi. Diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1981 oleh Kodansha International, Ltd. Di Indonesia, buku ini diterbitkan pertama kali tahun 2003 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Tetsuko menceritakan pengalaman hidupnya saat ia masih bersekolah [SD] dengan sangat menarik. Bukan cara berceritanya yang manarik, tapi cerita hidupnya itu sendiri.

Cerita Totto-chan yang sangat ingin tahu [lebih dari anak-anak seumurnya] ditambah dengan cara pendidikan ‘unik’ yang diterapkan Tomoe Gakuen merupakan sebuah pelajaran berharga yang sebenarnya bisa dipetik oleh para guru di Indonesia, atau bahkan diadopsi sebagai cara pendidikan di Indonesia.

Saya pribadi merasa sangat salut kepada Sasuko Kobayashi [1893 - 1963], sang Kepala Sekolah Tomoe yang berhasil menciptakan [dan menerapkan] cara pendidikan yang bisa mengangkat bakat dan minat setiap murid asuhannya dengan tanpa mengesampingkan pendikan moral dan sopan santun. Dan dari yang saya baca, sebagian besar teman-teman Totto-chan menjadi orang yang berhasil.

Pertanyaannya adalah, apakah bisa cara pendidikan seperti itu diterapkan di Indonesia? Saya menjawab BISA! Namun dengan carut marutnya sistem pendidikan yang diterapkan saat ini di Indonesia, saya tidak yakin hal itu bisa direalisasikan. Diperlukan seorang Sosaku Kobayashi Indonesia untuk menjadi Menteri Pendidikan, atau bahkan Presiden Indonesia.

Yang jelas, kita tertinggal jauh dari Jepang [pasti]. Bayangkan saja, Sosaku Kobayashi sudah menerapkan sistem ini di Tomoe sejak tahun 1937. Dibutuhkan energi yang besar dan dukungan dari banyak pihak untuk menjadikannya berjalan di Indonesia.

Saya cuma bisa berdoa, mudah-mudahan lahir seorang Sosaku Kobayashi di Indonesia, dengan catatan, orang itu lahir di lingkungan berada, punya beking yang kuat, didukung seluruh partai politik di Indonesia, ABRI, dan kalangan agamis. Soalnya sehebat apapun seseorang dan gagasannya untuk memajukan Indonesia, tanpa didukung hal tersebut, hampir mustahil bisa terlaksana.

Oh Indonesia, oh Indonesia!

http://pangerankucing.wordpress.com

http://en.wikipedia.org/wiki/Totto-